Popular Post

Popular Posts

Rabu, 02 Juli 2025

 

 

Mataku terpejam namun telingaku terbuka lebar. Terdengar api melahap, orang-orang berteriak. Aku berjalan dalam lautan warna merah. Kakiku sakit, tangan kiriku terluka, dan mata kananku tak dapat melihat. Aku sudah tidak ku-

"AZMAL!"

Seorang anak perempuan berteriak sambil berlari ke arahku. Ia berlari mengabaikan luka yang terukir jelas di sekujur tubuhnya. Matanya menatapku dengan tatapan penuh iba.

Kenapa melihatmu hati ini tentram?

"Uhuk!"

Sial, tubuh ini sudah tak dapat memangku bebannya. Sementara pihak ilmuwan juga pihak pemerintah sedang mengejar kita.

"Ayok, jangan menyerah." Ucapnya.

Gadis ini memapah tubuhku dengan tangan kecilnya. Tangan itu juga penuh dengan merah darah, sampai-sampai bajunya tak lagi berwarna biru laut.

"Sudah, hentikan.."

"TIDAK! KITA HARUS HIDUP BARENG-BARENG!"

Aku menggelengkan kepala.

Bagaimana kita bisa hidup bersama? Melihat wajahmu saja aku sudah tidak kuat.

"Tak mungkin..."

"hah?"

"Itu mustahil, Azna."

"PEMBOHONG!" Teriak Azna penuh kekecewaan. Ia terus berjuang berlari pelan sambil membawaku. "Kau berjanji tuk keluar bersamaku!"

Aku tidak berjanji untuk keluar bersama, Azna. Aku hanya berjanji untuk mengeluarkanmu seorang diri.

Dari kejauhan, suara berat dan mekanis menggema di udara. "Vrrrmmm... clank! Clank!" Rantai baja berdecit, menggilas tanah berbatu, disusul bunyi mesin yang meraung seperti binatang buas yang terbangun.

Lalu, terdengar sesuatu yang lebih mengancam. "Vvvvvvvvv... Kiiiiiin..." Suara dengungan tajam-laser sedang mengisi daya.

Aku menegang. Mata tajamku menembus gelap, melihat siluet hitam di kejauhan-moncong laras raksasa mulai bercahaya merah menyala, bersiap menembakkan kehancuran.

Azna menggigil, jemarinya mencengkeram lengan bajunya erat. Napasnya tak beraturan. Ia membawaku dengan lebih cepat, seolah-olah aku dan dia adalah satu tubuh yang sama berharganya.

Dengan sisa tenagaku, Aku diam-diam mengeluarkan senjata pedang merah dengan tangan kiriku.

"BZZZZZZZT!" Cahaya melesat, membelah udara dengan panas yang mengerikan. Dalam sepersekian detik, aku menarik gadis itu ke pelukannya, lalu melompat ke samping, menghindari tembakan yang menghancurkan tanah tempat mereka berdiri beberapa saat yang lalu.

Aku tahu jika menghindar maka tak akan sempat. Itulah alasanku mencoba sedikit peruntungan, dengan menangkis serangannya. Walau kami berdua masih saja terhempas jauh oleh ledakan.

Debu dan panas menyapu tubuh kami. Aku terbaring di atas tanah tanpa bisa sedikit pun bergerak. Energiku habis, aku tak mampu mengeluarkan skill apapun lagi. Bahkan untuk mengeluarkan senjata pun aku sudah tidak sanggup.

Sesuatu yang hangat jatuh di wajahku. Satu tetes. Lalu dua.

Aku mencoba menarik napas, tapi dadaku terasa berat. Pandanganku masih buram, dunia di sekelilingku terasa jauh... seperti di balik kabut.

Lalu suara itu. Lirih. Bergetar. "Azmal... bangun..."

Aku mengenali suara itu. Suara yang selalu terasa hangat, meski kini sarat ketakutan. Dengan sisa tenaga, aku memaksa kelopak mataku terbuka sedikit.

Azna.

Wajahnya berada tepat di atasku, matanya merah dan basah. Rambutnya berantakan, dan tangannya gemetar saat menyentuh pipiku. Aku merasakan kelembutan di bawah kepalaku-pangkuannya.

Jadi dia masih hidup.

Syukur menjalar dalam dadaku yang lemah, mengalahkan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuh. Aku ingin mengucapkan sesuatu, tapi suara itu tertahan di tenggorokan. Aku hanya bisa menatapnya.

Lalu, cahaya itu muncul.

Biru. Berpendar lembut.

Elemen airnya bersinar, mengalir di sekelilingnya seperti gelombang yang hidup. Aku bisa merasakannya, bahkan dalam gelapnya kelopak mataku yang kembali tertutup.

Hangat. Tenang. Seperti pelukan samudra yang melindungi.

Sebelum segalanya benar-benar tenggelam dalam gelap, aku tahu-Azna ada di sini. Kini ku sadar akan alasanku masih terus berjuang dalam kerasnya ruang putih penuh rasa sakit.

Kamu lah alasanku tuk terus berjuang.

*

Bip Bip Bip

"Ah..."

Aku merasa sakit dan pegal di sekujur tubuhku. Namun entah mengapa aku tak merasakan perih akan ribuan goresan luka hasil pertarungan. Tak ada bau debu, bubuk mesiu, juga arang kebakaran yang menyengat. Ruangan ini cukup steril-

Aku membuka mata dan lekas bangun.

Mengamati sekitar karena aku pikir aku kembali ke lab eksperimen. Tapi ternyata ruangan steril ini merupakan tempat pasien dirawat. Ruangannya begitu tenang, dan sunyi. Cukup steril lewat udara alami dari ventilasi. Suara mesin yang sangat berbeda dari yang seirng ku dengar di fasilitas lab. Detektor jantung dan infus terhubung kepadaku.

Aku melihat ke sebelah kiri, hamparan bumi terpampang jelas tanpa ada halangan sama sekali. Burung-burung bernyanyi dan terbang begitu bebas tanpa beban. Udara alami dari tumbuhan membawa harum yang membuat nyaman pernafasan.

Syukurlah ternyata aku tak tertangkap dan kembali ke fasilitas mengerikan itu.

"A-aduh."

Kepalaku berdengung seperti bel keras, menyadarkanku akan kejadian sebelumnya. Harusnya aku berada dalam lautan api pertarungan. Bersama Azna aku mencoba berlari dan membebaskan diri dari siapa pun. Karena baik di pihak organisasi maupun pemerintah, aku sudah menjadi musuh kedua belah pihak.

Aku berjuang sekuat tenaga untuk mengangkat kaki agar berpijak pada tanah. Kondisiku jauh dari kata sehat. Tubuhku dibalut perban yang begitu tebal sehingga membuatku kesulitan tuk bergerak. Tapi aku tahu sebenarnya aku sedang ditahan, bukan diselamatkan.

Di sisi lain aku bersyukur pada Tuhan. Karena jika aku selamat maka kemungkinan besar Azna juga selamat.

*

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang masih berdebar tak karuan. Tapi sebelum tubuhku bisa benar-benar rileks, suara pintu yang berderit membelah keheningan ruangan ini.

Krekk...

Refleks, aku menoleh cepat. Seorang pria melangkah masuk. Berjas rapi, berusia sekitar 30 atau 40 tahunan. Penampilannya bersih, berwibawa, dan yang paling mencolok-tatapan matanya yang begitu tenang.

Siapa dia?

Dokter? Tidak. Gerak-geriknya terlalu percaya diri, tidak seperti tenaga medis pada umumnya. Pemerintah? Bisa jadi. Atau lebih buruk lagi... orang dari laboratorium itu?

Sial. Aku bahkan belum pulih sepenuhnya. Kalau dia musuh, aku tidak akan bisa melawan. Pria itu menarik kursi di samping ranjangku dan duduk dengan santai, seolah kehadirannya di sini sudah direncanakan sejak awal.

"Akhirnya kau bangun," katanya. Aku tidak menjawab. Hanya diam, menatapnya tajam. Dia membalas tatapanku dengan ekspresi datar.

"Aku yakin kau punya banyak pertanyaan," lanjutnya, bersandar sedikit ke belakang. "Tapi izinkan aku langsung ke intinya." Katanya tak membuatku gentar, aku tetap siaga

"Kau sekarang adalah buronan." Ucapannya tersebut tak membuatku terkejut. Itu sudah bisa kuduga.

"Dunia menginginkanmu mati," lanjutnya santai.

Pria itu menatapku sejenak sebelum akhirnya menyilangkan kaki.

"Tapi sebelum kau memikirkan langkah selanjutnya, kau harus tahu satu hal penting." Dia menatapku dengan serius sebelum melanjutkan ucapannya. "Adalah bagaimana.. caranya kau bisa selamat."

Dia tahu?

"Panggil saja Pak Deta" begitu dia memperkenalkan dirinya-menghela napas sebelum mulai bercerita.

---

[Flashback - Sudut Pandang Pak Deta]

Kebakaran itu membakar segalanya. Aku sudah berusaha menyelamatkan siapa pun yang bisa kuselamatkan, tapi di tengah kekacauan itu, sesuatu menarik perhatianku.

Cahaya biru.

Aku tahu itu bukan sembarang cahaya. Itu adalah teknik terlarang elemen air-sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan siapa pun, karena risikonya bisa mati. Seketika itu tanpa berpikir panjang, aku langsung bergegas menuju sumber cahaya itu. Di sana, di antara reruntuhan, aku melihat dua sosok.

Seorang anak laki-laki penuh luka dan tak berdaya berada di pangkuan seorang anak perempuan yang seketika itu juga sedang melakukan teknik terlarang elemen air tersebut. Tangannya terangkat, air biru bersinar di sekelilingnya, dan saat aku mendekat, aku tahu apa yang sedang terjadi.

Dia... mengorbankan dirinya.

Aku mempercepat langkahku menghampirinya, berusaha menyelamatkan mereka sebelum terlambat. Tapi begitu aku mencapai tempat itu...

Cahayanya padam. Dan hanya ada satu orang yang tersisa di sana.

Azmal.

Aku segera membawanya pergi sebelum semuanya runtuh. Tapi ketika aku kembali untuk mencari anak perempuan itu, dia sudah tidak ada. Tidak ada tubuh. Tidak ada jejak. Hanya sisa-sisa air yang menguap di udara panas.

---

[Kembali ke Sudut Pandang Azmal]

Jadi.. Azna menggunakan teknik terlarang itu, untuk menyelamatkanku. Dan sekarang, dia tidak ada.

Hilang? Mati? Aku tidak tahu.

Namun jika memang sudah mati, lalu... apa gunanya aku hidup?

Pak Deta menatapku, membaca ekspresiku. "Aku tahu apa yang kau pikirkan," ia menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya "Kau ingin menyerah, bukan?" Lanjutnya seolah membaca isi pikiranku. "Kalau Azna sudah mati, kau berpikir tidak ada alasan lagi untuk hidup. Bukan begitu, Azmal?" Timpalnya.

Tunggu. Apa? "Azna, Azmal"?

Sejak awal ia masuk ke ruangan ini, aku tahu ada yang aneh dari pria di hadapanku ini. 

Salah? Jelas ada yang salah.

"Azmal" Nama itu bukan nama yang diberikan oleh para ilmuwan di laboratorium. Mereka tidak pernah memanggilku dengan sesuatu yang memiliki arti. Aku dan yang lainnya hanya angka, hanya kode di antara banyaknya percobaan.

Aku adalah 09-AZ. Itu saja.

Nama "Azmal".. hanya satu orang yang pernah memanggilku seperti itu. Azna.

Siapa pria ini? Bagaimana dia tahu?

Namun aku tahu, ini bukan situasi yang tepat untuk menanyakan hal tersebut. Karena ada yang lebih penting dari ini-apa tujuannya, dan apa yang sedang terjadi saat ini.

Pak Deta menghela napas. "Kalau begitu, pikirkan ini baik-baik, Azmal." Suaranya lebih serius sekarang.

"Bagaimana kalau dia tidak mati?" Lanjutnya membuatku membeku.

"Mayatnya tidak ditemukan, bukan?" Pak Deta melanjutkan perkataannya lagi. "Bagaimana kalau dia diculik? Bagaimana kalau dia masih hidup, tapi kembali jatuh ke tangan para ilmuwan keparat itu?" Ucapan Pak Deta kali ini.. membuat pikiranku langsung dipenuhi kemungkinan-kemungkinan itu.

Jika itu benar...

Kalau aku mati di sini, siapa yang akan menyelamatkan Azna?

Pak Deta melanjutkan, "Selain itu, kau punya urusan lain yang belum selesai, bukan?" 

Mendengar hal itu mataku menyipit. Apa maksud perkataannya?

"Organisasi itu," katanya.

"Jangan biarkan pengorbanan Azna menjadi sia-sia," Pak Deta menatapku tajam. "Berdirilah, bertahanlah, dan buat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan."

Hening.

Aku memejamkan mata, menarik napas panjang. Aku tahu, apa yang ia katakan bukanlah omong kosong. Ketika aku membuka mata lagi, aku sudah mengambil keputusan.

"Lantas, aku harus bagaimana?" Ucapku. Aku tahu, ini situasi genting. Karena aku tidak bisa menampakkan diriku pada dunia. Aku adalah buronan. Pak Deta tersenyum tipis, lalu berkata 

"Aku sudah memikirkan solusi untukmu." Dia melipat tangannya di atas meja kecil di samping tempat tidurku.

"Universitas Nova Haven."

Huh? Sekolah?

"Kau hanya perlu menjadi siswa biasa di sana," katanya. "Mengikuti kelas, menjalani kehidupan sekolah seperti anak-anak lainnya. Itu akan membuatmu aman dari kejaran pemerintah. Dan di saat yang sama..." Sebelum melanjutkan perkataannya, Pak Deta menatapku tajam.

"Itu akan menjadi langkah awal untuk menemukan Azna dan melanjutkan misimu. Karena di sana adalah tempat yang tepat untukmu memperdalam kekuatan yang kau miliki, wahai Sang Bencana."

Aku tidak langsung menanggapi. Tawaran itu terdengar aneh. Dari buronan menjadi siswa? Itu tidak seimbang.

Tapi satu hal yang aku tahu pasti.. Sejak dulu, sekolah adalah tempat yang paling Azna impi-impikan.

Baiklah.

"Aku akan melakukannya." Mendengar jawabanku, Pak Deta tersenyum puas.

.

.

.

Bersambung.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Dunia Veyastra

- Copyright © Galeri Karya - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -

cowok siang cowok malam
cewek siang cewek malam