Recent post
Archive for Maret 2025
Aku mencintaimu, sungguh,
dengan segala yang kupunya,
tapi entah kenapa, tanganku yang seharusnya menggenggam,
malah meninggalkan goresan luka.
Aku ingin menjadi teduh,
tapi aku adalah angin kencang,
menderu, menghantam, mengacaukan
segala yang indah di antara kita.
Aku takut…
Takut suatu hari kau sadar,
aku adalah badai yang tak pantas kau lalui.
Bahwa mencintaiku sama saja
dengan perlahan kehilangan dirimu sendiri.
Tapi aku berjanji,
aku akan melawan diriku yang tak terkendali,
aku akan berusaha menjadi tempatmu kembali,
bukan angin yang menyesakkan dadamu,
melainkan udara yang kau hirup dengan lega.
Dan untuk semua luka yang kubuat,
untuk setiap tangismu yang jatuh karena aku,
maaf… beribu kali maaf.
Aku hanya ingin kau tahu,
badai ini tak pernah bermaksud menghancurkan,
badai ini hanya belum tahu
bagaimana cara menjadi tenang.
Tapi untukmu,
aku akan belajar.
Kau pergi tanpa sepatah kata,
hanya jejak luka yang tersisa.
Seolah usahaku tiada,
kenangan kita kau hempaskan begitu saja.
Aku tahu, aku tak sempurna,
penuh retak dan kekurangan.
Tak layak bersanding denganmu,
wahai ratu di antara para pria.
Kini dunia tak lagi berwarna,
hidup bukan tentang cinta semata.
Aku akan berdiri megah,
tapi tak untukmu, pengkhianat!
tiada celah, tiada cela.
Disambut pujian, dielu-elukan,
tapi aku sadar, aku bukan Tuhan.
Lalu harapan itu datang,
dari tatapan matanya yang teduh.
Ia mencintaiku dalam kekurangan,
menerima aku, utuh dan rapuh.
Tuhan, izinkan aku jadi pelindungnya,
menikahinya tanpa keraguan.
Namun aku hanya bisa berjanji,
tanpa segera membuktikan.
Maafkan aku, wahai pemilik hatiku,
yang berkata cinta tanpa tindakan.
Kumohon, tetaplah di sana,
hingga aku pantas dan siap sepenuhnya.
Duhai pemilik semesta,
biarkan aku bersamanya.
Aku rela menaklukkan dunia,
namun tanpa restu-Mu, aku tak berdaya.
Langkahku berat, tertunduk hina,
di bumi milik Sang Maha kuasa.
Tak ada kebaikan dalam ingatan,
hanya jejak menuju kehancuran.
Dunia ini berwarna dan indah,
tapi gelap bagi yang lalai dari ibadah.
Mereka berjalan tanpa arah,
lupa akan cahaya yang Tuhan anugerahkan.
Banyak hamba melampaui batas,
seakan dunia milik mereka semata.
Padahal ia hanya debu di antara semesta,
tak pantas meminta, tak layak menuntut apa-apa.
Tuhan…
Sucikan jiwa yang kotor ini,
bimbinglah hati yang tersesat ini,
agar dapat kurasakan manisnya iman,
dan berjalan menuju cahaya-Mu, selamanya.
Sosokmu tegap, sekuat karang di lautan,
berdiri tanpa ragu, menantang badai kehidupan.
Namun di bibirmu, senyum tetap terukir,
meski luka tak terlihat, meski hati menjerit.
Aku tahu, kau hanyalah wanita biasa,
bukan pahlawan dalam cerita,
hanya jiwa yang lelah, mencari sandaran,
menggenggam harapan di tengah kesunyian.
Maka kini aku datang, bukan sebagai penyelamat,
hanya pria biasa yang ingin berbagi luka.
Tak punya mahkota, tak berlimpah harta,
hanya cinta yang kupunya, sederhana, tulus adanya.
Aku ini bukan siapa-siapa,
tak ada yang bisa kubanggakan.
Namun jika kau butuh tempat beristirahat,
bahuku selalu ada, tanganku selalu terbuka.
menatap takdir yang penuh duri.
Pikiran menjerit, mencaci dan memaki,
namun hati berbisik, "di ujung sana, kau menanti."
Kaki ini telah lupa pada nyeri,
jejak luka terukir tanpa henti.
Kutapaki jalan yang penuh duka,
menujumu yang berdiri di sana.
Langkah melemah, tubuh tersungkur,
namun tak ada waktu untuk menyerah.
Tanganku masih utuh, kugapai harapan,
merangkak, meski luka mulai merajam.
Aku ini pria malang!
Tak pernah mengenal hangatnya pelukan,
hanya terbiasa dengan luka dan kehilangan.
Namun, apa arti sakit dan derita,
jika akhirnya kudapati cintamu di sana?




