Popular Post

Popular Posts

Recent post

Archive for Juli 2025

 Kamis, 24-Juli-2025

 

Hari Kamis, hari di mana aku mulai bangun lebih pagi..

 

Dikit, WKWKW

 

Gak papa juga sih, yang penting ada perkembangan dikit-dikit. Lagian sebelum tidur aku udah salat 8 rakaat jadi pas bangun tinggal 3 rakaat dan sisanya sambil menunggu shubuh ya murojaah hafalan di juz baru dan jiyadah alias nambah hafalan.

 

Aku gak olahraga hari ini, karena kaki kananku di bagian lutut agak sakit. (Semoga Allah lekas menyembuhkan dan menjadikan sakit ini sebagai pahala). Aku hari ini disuruh buat nganter adekku ke sekolahnya, sekalian isi bensin motorku.

 

Nah! Di sini lah kejadian unik bin ngehe terjadi.

 

Aku naik motor matic alias motor baru. Gak baru-baru amat, sih. Ada kali mau setahun dari beli. Nah karena aku seringnya pake yang manual. Pas udah ngantri panjang dan urutan ke dua. Aku siap-siap doang buat buka jok

 

DAN YAP GAK BISA.

 

Aku jelenguk kayak kera yang gak bisa buka kelapa. Tapi aku udah tahu kalau ini dibuka lewat lubang kunci buat nyalain motor. Tapi karena panik dan malu ya... aku gak bisa mikir panjang.

 

Alhasil pas bagian aku. Aku gass aja sambil nanggung malu. Aku pura-pura masukin tangan ke saku biar disangka lupa bawa duit WKWKWK padahal mah kagak bisa buka jok!

 

KOCAK!

 

Pulangnya aku dimarahin oleh mamah, karena aku makan sambil nonton youtube di hp. Oke ini harus aku evaluasi.

 

Aku lanjut ngerjain novel. Tapi kali ini aku baca ulang buat ngerevisi, nyatuin cerita, dan nambahin plot biar gak ada plot hole di novelku. Aku ngerevisi bab 1-5 dulu dari total 15 bab. Sisanya sebelum jam 10 karena aku harus salat dhuha. Aku baca-baca buku yang kemarin, tentang memperbaiki cacat kepribadian, the secret dan nambah satu buku yaitu buku public speaking. Udah gitu salat dhuha

 

Selanjutnya, aku masih buruk dalam membagi tidur siang. Ini harus dievaluasi karena udah dua hari berturut-turut aku gak ke mesjid waktu ashar. Aku udah nyoba jam 2 pas buat tidur siang. Tapi malah bangun jam 4.

 

Astagfirullah... Better luck next time!

 

Sore harinya seperti biasa aku piket di kelas dua. Karena tetehku masih di Tasik yang katanya bakalan di sana selama satu bulan. Jadwal tetehku itu hari selasa sampai kamis. Jadi sisanya aku mungkin bakalan absen guru dan beres-beres kantor selain jadwal tersebut.

 

Malam hari aku mulai rekaman siaran motivasi tentang perubahan. Aku mau mulai mnegedit video lagi walau jadwal aku main gadget terbatas. Tapi akan aku usahakan.

 

Aku dimarahin kembali karena memutar youtube alur cerita film korea dengan alasan tampilan yang terbuka, walau aku rasa enggak juga. Tapi ya gak masalah udah biasa. Aku hanya memutarnya sebagai teman di kala aku menulis diari dan buku lainnya.

 

 Hal yang patut disyukuri hari Kamis ini :

1. Nambah hafalan 3 halaman.

2. Aku sehat, lancar, dan selamat menjalani hari

3. Aku meninggalkan kebiasan buruk hari rabu (YES!)

4. Udara dan cuaca begitu astri dan malam hari turun hujan.

 

Terima kasih, wahai Tuhan, dan diriku sendiri. Berkat kalian aku mampu menjalani hari dan masih menjalani hari kamis yang indah ini!

 

 

-Azmal 

 

Diamku berdenting di ruang kosong,
Menatap retakan di cermin jiwa,
Sorot mata kering, senyum terukir,
Seolah nyeri tak pernah mampir.

 

Hidup,
penuh kejutan yang menyayat pelan,
dari tangan mereka yang kusebut spesial.
Raga lelah, lebur menghindar,
Jiwa justru menari di alunan nyeri yang lembut.

 

Dalam luka yang tak lagi kupertanyakan,
kutemukan damai di setiap sayatan,
melodi sunyi,
yang menenangkan.

 


 

 

 

 

 


 Rabu, 23-Juli-2025

 

Di hari ini aku mulai menulis dan harapannya sih rutin tiap hari. Jadi pada hari di malamnya, aku nulis manual di buka tentang hal yang menarik, patut disyukuri, evaluasi, dan lainnya di hari tersebut.

 

Alasan Nulis di buku karena malemnya aku gak boleh main gadget elektronik apapun. Jadi dipostingnya di hari berikutnya.

 

Oke jadi pada hari ini aku memulai hari cukup rapih. Aku mulai meniatkan dan memantaplan diri untuk senantiasa upgrade diri. Salah satunya nulis diari.

 

Aku bangun sesuai jadwal, yakni jam 4.15 am. Walau sebenernya aku pengennya jam 3 an udah bangun. but that's okay, karena bertahap dan butuh proses juga. Aku jalani hari sesuai jadwal rutinitas, nambah hafalan satu halaman, dan murojaah 3 juz. Udah gitu aku juga mulai olahraga, karena udah lama juga gak olahraga soalnya sakit.

 

Aku berhasil mengerjakan tahajud dan dhuha pada hari ini. Tapi sayang aku masih melakukan dosa yang paling ingin aku tinggalkan. Tapi sekali lagi, aku harus tetap semangat. Karena perubahan memerlukan proses yang panjang.

 

Aku mengerjakan projek nulis novelku. Yang masih berbentuk draft dan belum diposting di blog pribadiku. Aku menulis sudah sampai bab 15, ini waktunya aku harus evaluasi cerita di esok hari. Biar nanti ceritaku gak ada plot hole atau salah penulisan nama, atau bisa juga ada hal yang ambigu dan belum diceritakan. Karena terkadang aku lupa dengan nama serta alur yang aku tulis dulu. Jujur aja, aku lebih suka nulis cerita daripada baca wkwk. Jadi suka males aja kalau harus baca ulang cerita sendiri, pengennya langsung upload.

 

Sore hari aku terlambat bangun, menjadikanku tidak salat ashar di masjid. Hal ini perlu dievaluasi dan tidak diulang di kemudian hari. Aku kembali diangkat jadi guru ngaji di MDU. Aku jadi guru piket, dan pada hari ini aku menggantikan tetehku yang guru kelas dua. Karena ia sedang berada di Tasik.

 

Tak ada yang spesial dari kelas dua. Hanya murid yang berisik dan senang bermain. Aku tak mempermasalahkan hal itu, asalkan mereka sudah menulis materi yang aku kasih. Toh, wajah juga. Karena mereka peralihan dari kelas satu yang masih anak-anak dan suka main, ke kelas dua yang materinya mulai naik level.

 

Malemnya aku les inggris di sekitaran rumahku. Gak ada yang spesial atau aneh juga di sana. Paling aku jadi MC buat temen-temen aku yang mau storytelling. Alasan aku jadi MC adalah karena aku sebelumnya menceritakan satu buku kepada teman-temanku. Terus teman-temanku harus nulis summary atau ringkasan dan menceritakan ulang ke kelas lain. Di mana aku yang jadi MC nya. Sebelumnya aku jadi yang cerita dan temen aku jadi MC.

 

Aku cuman heran aja dan pengen sharing ke kalian. Ada temen aku sebut saja mak izah, yang selalu saja badmood kepadaku dengan alasan yang sampai sekarang aku gak tahu. Aku mah simpel orangnya, kalau dia gak suka aku ya aku gak akan nanya atau ngobrol ke orang itu. Itulah alasan kenapa aku paling benci cewek tsundere walau alasan dia marah-marah karena suka. GAK LOGIS ANGJAY!

 

Nah si mak izah ini gak mungkin suka ke aku. Jadi aku cuekkin, cuman ketika aku lagi ngobrol ke yang lain dia suka nimbrung gak jelas aja gitu. Suka tiba-tiba nimpal percakapanku kayak,

 

"Apaan sih gaje!"

 

"Dih, ngatur!"

 

Lah? Lu kenapa?! Perasaan gua gak ngomong ke elu. Jujur aja gua gak kesel cuman freak aja kesannya. Di sisi lain gua juga memaklumi karena dia baru masuk SMA sedangkan aku udah kuliah. Jadi aku gak kesel atau kenapa malah lebih ke lucu aja gitu wkwkwk..

 

Wajar sih bocil!

 

Secara keseluruhan aku bersyukur atas hari Rabu ini. Aku diberi kesehatan, keselamatan, dan kelancaran di setiap aktivitas yang aku jalani. Aku harap Allah senantiasa memberiku hal semacam ini dan terus dilebihkan setiap harinya. Aku juga berharap aku semakin berkembang, dekat pada Allah, dan membuang kebiasaan buruk pada hari ini di esok hari.

 

-Azmal

23/07/2025 

Haii..?

Aku juga.. ingin sedikit bercerita tentang hari ini.. boleh kan ya? hehehe..

 

Hari ini.. aku sadar, aku merasa ada sedikit kehampaan.. saat tak dapat dengan leluasa berkabar.

Tapi di sisi lain.. aku merasa.. lega(?)

 

Perasaan yang baru kali ini aku rasakan.

Kesadaran yang baru sepenuhnya ku mengerti.

 

Bahwa rasa yang tumbuh dalam lubuk hati ini.. benar-benar milik-Nya yang tertuju pada salah satu hamba-Nya, kamu.

 

-

 

Kau tau?

Hari ini, aku merasa sangat amat lelah..

Sakit, pedih, sesak.. yang telah kurasakan dari kemarin.

Bukan berasal dari dirimu, hanya berasal dari hal.. yang mungkin bisa jadi adalah penawar dosa-dosaku..

 

Namun, ada sedikit kisah yang sangat.. dalam bagi hatiku.

Sekitar pukul 3 sore tadi, aku keluar dengan tangisan yang pecah.. hatiku merasa hancur. Bahkan aku tak tahu seberapa banyak air mata yang sudah ku keluarkan sejak hari kemarin.

Tapi, atas tuntutan pekerjaan.. aku harus keluar rumah.. dengan suasana hatiku yang kacau, mereka menyakiti lubuk hatiku. Meski itu sering terjadi, ntah kenapa hari ini lain.

 

Aku keluar rumah dengan terus berdo'a,

 

"Ya Allah.. aku tak ingin membenci mereka untuk menambah dosaku,..

Ya Allah.. tolong jaga ketenangan hatiku.. aku membutuhkan uang, maka aku tetap harus pergi..

Ya Allah..... Tolong.. jaga perjalananku, dan tenangkan hatiku.. tenangkanlah.. tenangkanlah.."

 

Aku ingin tenang, aku ingin selamat.

Saat aku sedang mengendarai sambil mengusap ribuan air mata untuk menenangkan diri yang merasa sesak..

Aku merasa, Allah mendengar suara hati kecilku

Kasih sayangnya tau betul apa yang aku inginkan..

 

Seketika itu, di balik air mata yang mengaburkan pandanganku ini.. ujung mata kananku menangkap sosok berbaju koko putih sedang berjalan tergesa.. menuju.. masjid?

 

Aku.. bahkan baru sadar bahwa jam itu menjelang adzan ashar..

 

Hanya sepersekian detik, aku menyadari sosok itu adalah dirimu..

Mampu membuat air mataku berhenti terjatuh untuk sekejap.

 

Aku terkejut, karna.. sempat beberapa kali duluu.. aku melewat hanya untuk melihatmu, tapi tak pernah selaras..

 

Namun kini, saat aku membutuhkan ketenangan.. seolah Allah langsung memberi jawaban, Ya. Benar.. Allah sangat tau apa yang diinginkan oleh lubuk hatiku..

 

-

 

Itulah mengapa.. hari ini, akan menjadi hari yang tak pernah kulupakan..

Hanya berlalu sepersekian detik, tapi begitu dalam bagi hatiku..

Ada ketenangan yang langsung menyembuhkan goresan dalam hati ini.. dan Allah lah yang memberinya, tanpa sedikitpun aku berniat.. Dia hanya memberikan yang diinginkan oleh hati kecilku..

 

Maa Syaa Allah.. indah sekali rasanya..

Baru kemarin kamu bilang kita hanya akan bertemu dalam dua pilihan..

 

Dan salah satunya adalah Allah yang pertemukan. Walaupun mungkin kau tak melihatku, tapi hadirmu membuat hatiku tenang..

 

Haha, walaupun setelah beberapa menit, tangisku malah semakin deras! :D

tapi kali ini.. bukan tangis sesak, melainkan tangis syukur yang mendalam..

 

Terimakasih, Ya Allah..

Engkau telah mengaruniai hari yang indah ini..

Aku, tak akan pernah melupakan hari ini.

 

13/07/2025

~Azna

 


 

16/07/2025

Malam Senin kemarin, aku terkena demam. Mau dibilang parah sih... ya, lumayan. Tapi karena aku cowok—dan kalian pasti tahu—cowok kalau demam itu lebay banget. Giliran kecelakaan malah santuy, ya kan? Wkwk.

 

Tapi jujur, pas sakit itu tubuhku benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain. Bahkan hari ini pun, ketika aku menulis catatan harian ini, aku masih merasa pusing walaupun suhu tubuh sudah kembali normal. Maklum... jadi cowok itu memang harus kuat. Dunia ini keras terhadap laki-laki. Kami harus mencari "harga" atas hidup kami dulu, baru diberi kasih sayang. Kalau tidak berguna, kami akan dihina dan diabaikan.

 

Well, jadi cowok maupun cewek sama-sama punya kekurangan dan kelebihan. Justru di bagian ini, cewek malah lebih kuat.

 

Setelah Maghrib malam Senin, jantungku berdebar kencang! Keringat dingin bercucuran di keningku! Bukan karena dapat wahyu—ya kali aku suka cowok?! Tapi itu semacam alarm dari tubuh, sinyal bahwa ada sesuatu yang salah di dalam diriku.

 

Akhirnya aku tetap ke masjid untuk salat Maghrib dan Isya. Karena aku jantan, bukan betina! AKU KUAT! Tidak mungkin aku panas!

 

...Gak sih, pada akhirnya panas juga 😅

 

Untungnya, saat aku sudah sampai rumah, hujan baru turun dari langit. Aku bersyukur, sih. Soalnya kalau hujan turun dari tanah, itu namanya azab kaum Nabi Nuh AS. Dan aku nggak mau jadi Kan’an.

 

Jujur, aku nggak tahu apa yang terjadi selama tiga hari itu. Tapi dari pengalaman itu, aku jadi teringat pada masa lalu dan segala dosaku—terutama dosa terhadap orang lain. Kalian bisa bilang aku lebay karena demam ini kelihatannya sepele. Tapi... gimana kalau demam ini justru ujian dari Tuhan agar dosaku dihapus? Gimana kalau Tuhan mengambil nyawaku sebagai tebusan dari dosa-dosaku?

 

Aku sih nggak masalah ya, wkwkw. Siapa yang nolak masuk surga jalur VIP?

 

Tapi masih banyak orang yang sudah aku kecewakan dan belum sempat aku bahagiakan. Hari ini, di tanggal yang tertera, aku merasa sedikit lebih baik. Aku sadar, manusia itu makhluk yang rapuh, tapi begitu angkuh. Diberi sedikit anugerah, sudah merasa seperti Tuhan.

 

Dan karena itulah, aku merasa... atas rasa sakit ini—yang ternyata adalah bentuk kasih sayang dari Tuhan—aku seperti terlahir kembali.

 

Terima kasih, Tuhan.

13-07-2025


Catatan ini bukan untuk meminta belas kasih. Catatan ini adalah bentuk penyesalan diri atas apa yang telah terjadi. Tak ada yang patut disalahkan selain diriku sendiri, yang lebih memilih kejelekan atas tanda-tanda Tuhan yang sering memperingatkan.

 

Aku tukar kebaikan dengan kejahatan, cinta dengan nafsu, kesetiaan dengan pengkhianatan, pertumbuhan dengan kehancuran, serta hal-hal lain yang tak bisa kuingat atau kuungkapkan.

 

Namun aku tahu, semuanya tercatat dalam buku amal oleh para malaikat.

 

*

 

Kulihat sekelilingku, banyak yang melebihiku, juga banyak yang lebih sukses dariku. Aku berkaca pada cermin kehidupan yang memantulkan bayangan hitam dalam diriku. Kusadari banyak hal.

 

Bukan karena aku tak diberi karunia lebih banyak dari orang lain, tapi karena aku sendiri yang memilih menukar karunia dengan keburukan yang nyata. Lantas Tuhan yang Maha Penyayang sengaja tak memberiku lebih karena Tuhan tahu dosa itu tak sanggup kutampung.

 

Aku sering melihat ada orang yang mungkin lebih buruk dariku. Tapi Tuhan memberi mereka jalan, mempermudah hidup mereka, mengukir tawa dan senyum di wajah mereka. Sedangkan aku? Sebaliknya.

 

Kini kusadar, Tuhan begitu sayang pada hamba-Nya yang hina ini.

 

Tuhan memberiku karunia: keluarga, saudara, teman, bahkan seseorang yang mencintaiku dengan tulus sepenuhnya. Namun aku mengecewakan mereka, dan mengubah mereka menjadi sosok yang berlumuran dosa karena kesalahan diriku.

 

Kini aku sadar... akulah yang salah.

 

*

 

Dulu...

 

Aku sering berkiblat pada setiap amal salehku,
menatapnya dengan bangga, yakin itu cukup untuk mengejar ridha-Mu.

 

Kini, karena kesombongan itu,
Kau banting diriku ke dalam dosa yang menghinakan.

 

Namun di sisi lain,
Kau beri aku ribuan kesempatan.
Kau beri aku udara dan jantung yang masih bekerja.
Kau abaikan dosa-dosa yang dahulu kuperbuat.

 

Tuhan, terima kasih.
Aku ingin berubah...

Tiga bulan kemudian...

 

*

 

Langit jingga membentang luas di atas desa kecil yang dikelilingi pegunungan dan sawah yang menghampar sejauh mata memandang. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Desa ini tenang, sejuk, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Tempat yang sempurna untuk bersembunyi... dan memulihkan luka.

 

Aku dan Michelle baru pulang dari perjalanan singkat hari ini. Tak terasa, selama tiga bulan terakhir, kami menjadi partner petualangan di desa ini: menyusuri hutan, membantu para petani, latihan kekuatan air, hingga berendam di mata air hangat.

 

Terlihat menyenangkan... bagaimana Michelle yang sebelumnya kurang menerima kehadiranku dan bersikap sedikit menyebalkan, sekarang malah menjadi orang paling cerewet setiap kali ada yang mengingatkan bahwa sebentar lagi aku akan pergi. Tidak hanya Michelle, aku pun berubah menjadi lebih manusiawi di sini.

 

Ketika kami melewati jalan utama desa, aku melihat beberapa warga sudah berkumpul seperti sedang menunggu kedatangan kami. Mereka tersenyum dan menyambut hangat.

 

"Jangan lupa kabar-kabar, Mal, kalau udah jadi orang gede nanti!" seru salah satu warga.

 

"Awas aja kamu nyusahin guru-guru di sekolah sana!" timpal yang lain. Aku terkekeh kecil. Kehangatan mereka terasa tulus, memenuhi dadaku.

 

"Michelle pasti nangis nih ditinggal!"

 

Aku hanya bisa tersenyum miring, sementara Michelle manyun sambil menyikut lenganku.

 

"Apalah para orang tua ini, bawel mulu kerjaannya," gumamnya. Tapi pipinya yang sedikit memerah, tak bisa menyembunyikan kesedihan yang ia tahan.

 

Kami melanjutkan perjalanan sampai rumah. Namun, langkah Michelle mulai melambat ketika mendekati halaman.

 

"Kamu beneran pergi besok?" tanyanya pelan.

 

"Ya iyalah. Masa gue batal gara-gara ada bocil nangis?" sahutku sambil menggoda.

 

"Dih!? Siapa juga yang nangis!?" tepat seperti dugaanku.

 

Buk! Ya... pukulannya juga.

 

"Yah, bukan kamu Michelle, bukan kok. Cuma ada bocah kecil, rambutnya pendek, galak banget... tapi nangisnya diem-diem," godaku sambil nyengir.

 

Michelle mendahuluiku sampai rumah, langkahnya cepat. Tapi... aku tahu, ada yang ia tahan. Aku pun merasakan hal yang sama. Tiga bulan—waktu singkat yang mengubahku. Memulihkan tubuh, mempelajari elemen baru, dan yang paling penting... menemukan arti keluarga.

 

Keluarga Michelle menerimaku seutuhnya, begitu pula warga desa yang tak memandang masa laluku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa pulang.

 

Lamunanku terpecah saat beberapa warga mulai berdatangan ke rumah keluarga Michelle. Mereka membawa makanan, buah-buahan, dan berbagai hidangan untuk acara malam ini—kenduri kecil sebagai perayaan keberangkatanku ke sekolah tinggi. Sekaligus... perpisahan.

 

Tak terasa malam tiba. Suara riuh mulai terdengar. Kenduri itu meriah. Warga berdatangan membawa nasi tumpeng, buah semangka segar, gorengan panas, dan hidangan lainnya. Desa yang biasanya tenang kini penuh tawa dan obrolan hangat.

 

Di tengah keramaian, aku menyadari sesuatu: Michelle tampak murung.

 

"Kamu tenang aja ya, Michelle. Aku nggak pergi selamanya, kok! Libur nanti juga aku ke sini," ujarku sambil sedikit tersenyum.

 

"Ya tahu," jawabnya pelan. Anak se-cerewet ini tiba-tiba jadi sedingin itu.

 

Aku memperhatikannya sambil tertawa kecil.

 

Di sisi lain, warga mulai bertanya tentang diriku.

 

"Nak Azmal, sekolah di Nova Haven? Yang saya tahu itu jauh sekali. Apa itu nggak berat buat kamu? Bukannya kamu baru bisa ngontrol elemen air sekarang ya?" tanya Pak Rudi.

 

"Yah, In syaa Allah bisa, Pak," jawabku sambil menarik napas. Elemen air memang lebih susah dari petir, tapi aku yakin.

 

Suasana makin akrab. Doa dan harapan mengalir dari mereka. Tak seperti tempat sebelumnya, yang hanya berisi ancaman dan tekanan.

 

Namun Michelle masih termenung di sudut ruangan. Aku menghampirinya, melihat ia memegang permen kapas, namun wajahnya tampak lemas.

 

"Ayo, Chel! Bocil ini kenapa sih? Kok jadi diam gini?"

 

"Aku cuma... sedih aja kamu bakal pergi," ujarnya pelan. "Siapa yang bakal jadi babu aku buat petualangan-petualangan seru lagi nantinya?"

 

Aku menggeleng pelan. Dasar bocah.

 

Aku mengelus kepalanya. "Masa kamu nggak inget, Michelle? Waktu pertama kali aku datang, kamu bahkan nggak nerima aku. Huft."

 

"Lo jangan becanda terus deh, Azmal! Gue serius!" ia mengeluh, menatapku tak rela.

 

Aku menyentuh bahunya, menatapnya dalam.

 

"Utututu... Yahh, aku juga udah mulai terbiasa sama kamu, Michelle. Kamu udah kayak adik aku sendiri. Yang paling ribet, cerewet, tapi... juga paling nggak mau kehilangan."

 

Ia menatapku, kesal sekaligus sedih. Dahi mengernyit, tapi matanya tak bisa berbohong.

 

"Kamu nggak boleh ninggalin aku gitu aja."

 

Aku terdiam sejenak. Lalu duduk di sebelahnya.

 

Michelle duduk di kasur, memeluk lututnya.

 

"Aku tahu kamu harus pergi… Tapi…"

 

"Apa?" tanyaku, pelan.

 

"...Kamu nggak bilang 'selamat tinggal'."

 

Aku mengelus rambutnya. "Kalau aku bilang 'selamat tinggal', itu artinya aku ninggalin semuanya. Tapi kalau aku bilang 'sampai nanti'... itu berarti aku masih di sini, Chel. Di hati kamu."

 

Michelle mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mencoba tersenyum. "Janji?"

 

Aku mengangguk. "Janji."

 

Melihat reaksinya, aku tersenyum lembut. "Nanti, kalau Michelle bosen di desa ini, datang aja ke sekolah. Kita bisa ngerjain tugas bareng, mau?"

 

Ia tersenyum tipis. "Kamu nggak akan lupa sama Michelle, kan?"

 

"Aku nggak bakal lupa sama kamu, Michelle. Aku janji."

 

Malam itu jadi salah satu malam terindah dalam hidupku. Kami mengobrol dan tertawa sampai Michelle tertidur. Aku menyelimutinya dan kembali ke kamarku.

 

Kutatap sekeliling. Banyak barang penuh kenangan.

 

Pancing dari Pak Herman—awal mula aku belajar mengendalikan air. Foto di depan toko bu Hajah—di mana aku dan Michelle membantu membangun. Sabit—pertama kalinya aku belajar beternak. Dan banyak lagi.

 

Semua harus aku tinggalkan...

 

Kenangan ini tak akan kulupakan. Karena dengan kenangan ini lah aku bisa menjadi diriku sekarang.

 

Namun ketika aku merasa bahagia, kesedihan menerjang seperti badai. Aku teringat Azna. Dia yang paling menginginkan semua ini. Dia yang mengorbankan dirinya demi aku... yang bahkan tak pantas mendapatkannya.

 

Tuk tuk tuk.

 

Suara ketukan memecah lamunanku. Dari jendela kecil.

 

Seekor merpati bertengger. Di kakinya tergenggam sepucuk surat, di paruhnya, sebuah gelang hitam-putih.

 

Kubuka suratnya dan mengenakan gelang itu.

 

Seketika, hologram muncul dari gelang. Menampilkan Pak Deta, si tua bangka.

 

"Ini saatnya."

...

Bersambung.

 

 

Aku nggak bisa tidur nyenyak semalam. Mungkin karena otakku masih muter-muter nyari jawaban kenapa seorang cowok biasa-biasa aja bisa menolak aku seolah aku nggak lebih menarik dari brosur pulsa murah di depan minimarket.

 

Atau mungkin... karena mimpi aneh tadi malam.

 

Aku dikejar-kejar Azmal sambil dia bawa sajadah dan air zamzam. Di akhir mimpi, dia nyuruh aku pake mukena dan ngajarin shalat dhuha sambil marahin aku karena lipstick-ku terlalu tebal. Jijik. Tapi lucu. Dan... nyebelin. Kenapa mimpi soal dia justru bikin aku senyum-senyum pas bangun?

 

Tapi ini bukan suka. Nggak mungkin. Aku cuma... penasaran. Ya, penasaran. Aku anak mafia. Terlatih. Tangguh. Punya standar tinggi. Masak iya jatuh ke cowok religius dingin yang ngomongnya kayak ceramah Jumat? Mustahil.

 

Aku berdiri di depan cermin. Piyama pendek yang aku kenakan—crop top abu lembut dan celana pendek satin—memang nyaman untuk tidur, tapi sekarang malah bikin aku merenung. Pakaian ini jelas menonjolkan perutku yang rata, hasil latihan rutin dan diet disiplin. Paha mulus dan pinggang rampingku terlihat jelas, dan rambutku yang sedikit kusut jatuh di pundak seperti iklan shampoo.

 

Aku menyipitkan mata, menatap refleksiku dengan ekspresi nyinyir.

 

"Oke. Serius. Aku cantik, kuat, seksi, cerdas, deadly, dan literally—hot even in sleepwear. Tapi Azmal?"

 

Aku mencibir. "Dia bahkan nggak noleh. Bahkan pas aku nyenggol dia kemarin, dia lebih milih ngindar daripada liat betapa sempurnanya pipiku ini."

 

Aku mendekat ke cermin, membenahi rambut sebentar lalu memutar badan, memandangi siluet tubuhku dari samping.

 

"Dada? Check. Pinggang? Check. Kaki panjang proporsional? Check. Aura mematikan? Double check."

 

Aku mendesah panjang. "Apa dia... kebal? Atau jangan-jangan... terlalu suci sampai nggak bisa bedain mana makhluk surgawi dan manusia biasa?"

 

Aku mengusap wajah. "Oke, Evna. Fokus. Ini bukan karena kamu suka. Kamu cuma... penasaran. Iya. Penasaran kenapa cowok seaneh itu bisa bikin kamu begini."

 

Pagi ini, aku tetap tampil kece seperti biasa. Tapi kali ini versi "casual wanita aktif dan tangguh". Celana training Adidas, hoodie crop-top pastel yang kebesaran dikit biar kelihatan effortless, dan sneakers putih yang baru aku bersihin tadi malam. Rambut diikat messy bun, dan alis tetap on point. Kelihatannya aku mau jogging, padahal niatku cuma satu: ikut kegiatan kampus karena dia ikut juga.

 

Kegiatan sosial kampus. Bersih-bersih lingkungan fakultas. Aku bahkan lupa siapa yang ngajak, tapi begitu Imel nyebut nama Azmal bakal jadi panitia... aku langsung daftar.

 

"Gue kayak baru lihat hantu waktu lo bilang mau ikut kegiatan bersihin kampus," kata Imel sambil nyengir, "Biasanya lo bersihin masalah, bukan lantai."

 

Aku nyengir juga. "Gue mau tobat."

 

"Tobatnya kok pas Azmal jadi panitia ya?"

 

Aku pura-pura nggak denger. Yang penting aku berdiri di lapangan kampus sekarang, bareng anak-anak panitia lain yang kelihatan semangat kayak mau masuk TV. Aku? Aku cuma mau berdiri cukup dekat biar bisa ngeliat Azmal.

 

Dan akhirnya dia muncul. Jaket hitam polos lagi, celana hitam, sepatu kets lusuh, dan wajah datar abis. Dia bawa alat pel dan ngatur pembagian tugas.

 

"Buat cewek-cewek, bisa bantu bersihin tangga gedung selatan."

 

Langsung angkat tangan. "Aku ikut bagian itu!" suaraku semangat banget sampe semua orang noleh.

 

Azmal cuma ngangguk. Tapi Imel langsung nyikut aku. "Lo ngapain sih semangat amat?"

 

Aku bisik, "Dia yang mimpin bagian itu."

 

Dira ngedumel. "Lo kayak mata-mata yang nyamar jadi relawan."

 

Sasha senyum simpul. "Gue heran lo nggak pake dress waktu kerja bakti begini."

 

Aku cuek. Yang penting aku dapet spot deket dia.

 

Kami mulai bersih-bersih. Aku megang sapu, Azmal ada di ujung tangga, ngepel bagian atas. Suasana kampus adem, tapi detak jantungku nggak.

 

Aku maju pelan. "Mas Azmal."

 

Dia noleh sebentar. "Ya?"

 

"Kalau bersihin tangga itu sunahnya dari atas atau bawah dulu ya?"

 

Dia berhenti sebentar, lalu jawab, "Dari niat dulu."

 

KZL.

 

Aku senyum manis. "Tapi aku bingung... yang kotor itu tangganya atau hatiku tiap liat Mas Azmal dari belakang?"

 

Dia diem. Mungkin mikir. Atau mungkin nahan muntah.

 

Akhirnya dia jawab datar. "Kalau godaanmu semanis ucapanmu, bisa-bisa setan pensiun dini."

 

ASTAGA.

 

Sumpah, cowok ini jawabannya kayak kutipan ceramah subuh tapi nusuk. Tapi kenapa... aku malah geli sendiri.

 

Tapi ini bukan suka. Bukan!

 

Beberapa meter dari kami, ada dua orang mahasiswa yang ikut kegiatan ini juga. Cowok berjaket bomber dengan tangan diselipkan ke kantong dan cewek berkacamata yang bawa buku catatan. Mereka ngeliat ke arahku. Fokus banget.

 

Mereka bukan mahasiswa biasa.

 

Mereka anak buah Ayah.

 

"Target makin dekat dengan objek," bisik si cowok.

 

"Kita catat dulu. Belum waktunya lapor," jawab si cewek tenang.

 

Cowok itu, Ray dan cewek di sampingnya adalah Ruka, mereka anak didik Ayah yang paling loyal. Mereka juga bawahanku dan kami sering menjalani misi bersama. Walau begitu hubungan kami bertiga kayak temen seangkatan. Karena aku gak terlalu suka formal kecuali ketika aku sedang berbicara serius.

 

Kegiatan selesai menjelang siang. Panitia lain duduk-duduk istirahat, aku masih sok sibuk bersihin gagang sapu. Azmal duduk di bawah pohon, buka botol minumnya.

 

Aku jalan ke arah dia, duduk di bangku semen dekatnya.

 

"Haus ya?"

 

Dia noleh sebentar. "Lumayan."

 

Aku keluarkan botol kecil dari tasku. "Aku bawa infused water. Lemon mint. Mau?"

 

Dia tatap botol itu. "Pasti udah dibacain mantra ya?"

 

Aku ngakak. "Gila, Mas. Aku bukan dukun."

 

Dia senyum. Sedikit. Tapi cukup untuk bikin aku diem lima detik karena jantungku nyaris kebol.

 

"Evna!" teriak Imel. "Lo beneran duduk di samping dia? Nggak takut kesetrum hidayah?"

 

"Doain aja gue kesetrum, biar bisa insyaf sekalian," jawabku nyengir.

 

*

 

Kami mulai beres-beres aula fakultas, kali ini lebih santai. Ada yang bersih-bersih, ada yang nyapu, ada yang ngelap jendela. Aku ikutan bersihin meja-meja bareng Imel dan Sasha, tapi mataku tetap sesekali melirik ke arah cowok berjaket hitam yang tengah memindahkan tumpukan kursi sendirian.

 

"Lo bantuin dia, gih," kata Imel sambil nyengir. "Biar lebih dekat."

 

"Ah, malu," jawabku sok jaim.

 

Tapi pada akhirnya... aku nyamperin juga.

 

"Mas Azmal," sapaku. Dia noleh sebentar. "Meja yang itu mau dibawa ke mana?"

 

"Disusun di sisi kiri aula. Yang kanan buat jalur evakuasi," jawabnya datar.

 

Aku ikut mengangkat meja. Berat juga. Tapi demi deket-deket dia, tak apa. Di tengah jalan, aku sok nyenggol bahunya sedikit.

 

"Ups. Maaf."

 

Dia hanya melirik sebentar. "Gak apa."

 

Kami naruh meja bersama, dan saat itu, aku baru sadar... ini pertama kalinya kami kerja bareng cukup lama tanpa orang lain.

 

"Kamu sering ikut kegiatan kayak gini?" tanyaku.

 

"Kalau nggak tabrakan sama jadwal, iya," katanya tanpa menoleh.

 

"Kenapa sih kamu suka diem-diem gitu? Cowok pendiam tuh... biasanya nyimpen rahasia gede."

 

"Semua orang nyimpen rahasia. Termasuk kamu, kan?"

 

Deg. Dadaku sedikit nyesek. Tapi aku tertawa untuk menutupinya. "Aku? Aku cuma nyimpen lip balm di saku hoodie. Paling bahaya juga kalau ketemu mantan."

 

Dia tidak menjawab. Tapi saat aku menoleh, aku menangkap setitik senyum kecil yang muncul lalu hilang. Sekilas. Tapi cukup untuk bikin pipiku memanas.

 

Dan akhirnya... kegiatan pun selesai. Kami semua keluar aula dan jalan ke arah gerbang kampus. Aku masih bareng Imel, Dira, dan Sasha. Tapi langkahku pelan, karena ingin lihat apakah Azmal juga ikut bareng keluar.

 

"Fix, lo naksir berat sama ustadz ganteng itu," kata Dira.

 

"Nggak berat. Beratnya tuh kalo diajak ke pengajian terus disuruh ta’aruf," balasku.

 

"Lo tuh naksir," goda Imel.

 

Aku mendesah. "Nggak. Gue cuma penasaran. Nggak mungkin juga gue suka sama cowok kayak dia."

 

Tapi kalimat itu... terasa hambar. Nggak sekuat biasanya. Aku gak tahu apa yang aku rasain, tapi aku yakin. Bila rasa penasaran ini udah ilang, maka Azmal tak berharga lagi di mataku.

 

Sambil jalan, kami bertemu seorang cowok berambut ikal agak panjang, berkacamata, dan pakai hoodie warna biru laut. Dia membawa kotak donasi dan senyum lebar yang nggak pernah mati.

 

"Evna, ya?" tanyanya sok kenal, nadanya genit nggak jelas.

 

Aku sempat kaget. "Iya, kamu siapa?"

 

"Faza. Temennya Azmal. Bisa dibilang... satu-satunya yang tahan sama dinginnya dia. Dan satu-satunya yang masih hidup habis ngajak dia nongkrong tiap hari."

 

Aku angkat alis. "Temen? Serius?"

 

"Serius banget. Kita temenan sejak awal semester. Gue yang paling sering ditolak ngajak dia ngopi. Dan gue bangga." Dia pasang pose bangga kayak abis menang lomba joget TikTok.

 

Aku nyengir. "Pasti kamu juga penasaran kenapa dia kayak gitu, kan?"

 

"Awalnya iya. Tapi ternyata... dia tuh orang paling tulus yang pernah gue kenal. Nggak banyak omong, tapi sekali nolong orang... total. Lo tahu nggak dia pernah bantuin OB kampus yang anaknya sakit buat dapetin bantuan biaya? Padahal nggak ada yang nyuruh. Dia diem-diem ngurusin semuanya kayak pahlawan bertudung sajadah."

 

Aku terdiam sebentar, lalu cepat-cepat nyamarin ekspresiku. "Ya udah. Biasa aja sih. Gue juga bisa bantuin orang kalau mau."

 

Faza melirikku licik. "Lo nanya-nanya gini... jangan-jangan... lo suka ya sama Azmal?"

 

Aku langsung mendekat dengan senyum lebar. "Lo suka napas?"

 

"Ya... suka dong."

 

"Lo suka hidup?"

 

"Banget."

 

Aku makin mendekat, mata menyipit. "Lo pengen dua-duanya bertahan sampai minggu depan?"

 

Faza langsung mundur panik sambil ketawa. "Woi woi woi! Santai, Nona Evna! Amann! Nggak nanya lagi!"

 

Imel dan Dira langsung ngakak. Sasha menutup mulut sambil tertawa.

 

"Waduh, Faza kena semprot princess mafia!" seru Imel.

 

"Cepet, cari tempat berlindung!" tambah Dira.

 

Dengan panik Faza ngumpet di belakang Amel, cewek panitia dari fakultas sebelah. "Amel lindungi aku! Ini cewek serem bener!"

 

Amel yang lagi minum langsung minggir sambil nyengir, "Jangan bawa-bawa gue, bang. Gue juga takut."

 

Aku mendecak dan menyilangkan tangan. "Gue cuma tanya-tanya biasa. Lagian cowok kayak Azmal mah... bukan tipe gue."

 

Kalimat itu keluar pelan... tapi suaraku mulai goyah. Dan entah kenapa, saat aku melirik ke arah tempat Azmal duduk, dia nggak lagi di sana.

 

Tapi perasaan itu... belum pergi.

 

Tiba-tiba, sebuah van hitam berhenti dengan sangat mulus di tepi jalan. Jendelanya gelap.

 

Aku langsung berhenti. Yang lain juga.

 

Jendela depan turun pelan. Wajah sopirnya nggak kelihatan jelas, hanya suara pelan tapi tegas, "Nona. Kami jemput sesuai jadwal."

 

Semua temanku langsung melongo. Mereka tau... ini bukan Grab. Ini bukan travel. Ini... kendaraan mafia.

 

Aku hanya mendesah. "Sampai besok, girls. Kalau gue nggak dibunuh karena kebanyakan senyum ke cowok alim."

 

Mereka ketawa hambar. Mereka takut.

Aku masuk ke van. Begitu pintu tertutup, dunia berubah.

 

Interior mobil gelap, mewah, sunyi. Aroma kulit sintetis mahal dan parfum pria mahal. Di belakang supir, duduk pria berbadan besar memakai jas hitam.

 

Dia tak bicara soal Azmal. Tidak menyinggung soal laporan. Hanya diam.

 

Van meluncur pelan, membawa aku kembali ke dunia asliku. Dunia mafia. Dunia yang... terasa makin asing.

 

Dan di luar sana, di koridor kampus yang penuh debu dan tawa ringan, ada seorang cowok dingin, dengan tatapan lurus dan hati yang entah kenapa... mulai membuat duniaku bergetar.

 

Tapi ini bukan cinta.

Kan?

.

.

*

Bersambung.

Dunia Veyastra

- Copyright © Galeri Karya - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -

cowok siang cowok malam
cewek siang cewek malam