Popular Post

Popular Posts

Minggu, 13 Juli 2025

Tiga bulan kemudian...

 

*

 

Langit jingga membentang luas di atas desa kecil yang dikelilingi pegunungan dan sawah yang menghampar sejauh mata memandang. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Desa ini tenang, sejuk, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Tempat yang sempurna untuk bersembunyi... dan memulihkan luka.

 

Aku dan Michelle baru pulang dari perjalanan singkat hari ini. Tak terasa, selama tiga bulan terakhir, kami menjadi partner petualangan di desa ini: menyusuri hutan, membantu para petani, latihan kekuatan air, hingga berendam di mata air hangat.

 

Terlihat menyenangkan... bagaimana Michelle yang sebelumnya kurang menerima kehadiranku dan bersikap sedikit menyebalkan, sekarang malah menjadi orang paling cerewet setiap kali ada yang mengingatkan bahwa sebentar lagi aku akan pergi. Tidak hanya Michelle, aku pun berubah menjadi lebih manusiawi di sini.

 

Ketika kami melewati jalan utama desa, aku melihat beberapa warga sudah berkumpul seperti sedang menunggu kedatangan kami. Mereka tersenyum dan menyambut hangat.

 

"Jangan lupa kabar-kabar, Mal, kalau udah jadi orang gede nanti!" seru salah satu warga.

 

"Awas aja kamu nyusahin guru-guru di sekolah sana!" timpal yang lain. Aku terkekeh kecil. Kehangatan mereka terasa tulus, memenuhi dadaku.

 

"Michelle pasti nangis nih ditinggal!"

 

Aku hanya bisa tersenyum miring, sementara Michelle manyun sambil menyikut lenganku.

 

"Apalah para orang tua ini, bawel mulu kerjaannya," gumamnya. Tapi pipinya yang sedikit memerah, tak bisa menyembunyikan kesedihan yang ia tahan.

 

Kami melanjutkan perjalanan sampai rumah. Namun, langkah Michelle mulai melambat ketika mendekati halaman.

 

"Kamu beneran pergi besok?" tanyanya pelan.

 

"Ya iyalah. Masa gue batal gara-gara ada bocil nangis?" sahutku sambil menggoda.

 

"Dih!? Siapa juga yang nangis!?" tepat seperti dugaanku.

 

Buk! Ya... pukulannya juga.

 

"Yah, bukan kamu Michelle, bukan kok. Cuma ada bocah kecil, rambutnya pendek, galak banget... tapi nangisnya diem-diem," godaku sambil nyengir.

 

Michelle mendahuluiku sampai rumah, langkahnya cepat. Tapi... aku tahu, ada yang ia tahan. Aku pun merasakan hal yang sama. Tiga bulan—waktu singkat yang mengubahku. Memulihkan tubuh, mempelajari elemen baru, dan yang paling penting... menemukan arti keluarga.

 

Keluarga Michelle menerimaku seutuhnya, begitu pula warga desa yang tak memandang masa laluku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa pulang.

 

Lamunanku terpecah saat beberapa warga mulai berdatangan ke rumah keluarga Michelle. Mereka membawa makanan, buah-buahan, dan berbagai hidangan untuk acara malam ini—kenduri kecil sebagai perayaan keberangkatanku ke sekolah tinggi. Sekaligus... perpisahan.

 

Tak terasa malam tiba. Suara riuh mulai terdengar. Kenduri itu meriah. Warga berdatangan membawa nasi tumpeng, buah semangka segar, gorengan panas, dan hidangan lainnya. Desa yang biasanya tenang kini penuh tawa dan obrolan hangat.

 

Di tengah keramaian, aku menyadari sesuatu: Michelle tampak murung.

 

"Kamu tenang aja ya, Michelle. Aku nggak pergi selamanya, kok! Libur nanti juga aku ke sini," ujarku sambil sedikit tersenyum.

 

"Ya tahu," jawabnya pelan. Anak se-cerewet ini tiba-tiba jadi sedingin itu.

 

Aku memperhatikannya sambil tertawa kecil.

 

Di sisi lain, warga mulai bertanya tentang diriku.

 

"Nak Azmal, sekolah di Nova Haven? Yang saya tahu itu jauh sekali. Apa itu nggak berat buat kamu? Bukannya kamu baru bisa ngontrol elemen air sekarang ya?" tanya Pak Rudi.

 

"Yah, In syaa Allah bisa, Pak," jawabku sambil menarik napas. Elemen air memang lebih susah dari petir, tapi aku yakin.

 

Suasana makin akrab. Doa dan harapan mengalir dari mereka. Tak seperti tempat sebelumnya, yang hanya berisi ancaman dan tekanan.

 

Namun Michelle masih termenung di sudut ruangan. Aku menghampirinya, melihat ia memegang permen kapas, namun wajahnya tampak lemas.

 

"Ayo, Chel! Bocil ini kenapa sih? Kok jadi diam gini?"

 

"Aku cuma... sedih aja kamu bakal pergi," ujarnya pelan. "Siapa yang bakal jadi babu aku buat petualangan-petualangan seru lagi nantinya?"

 

Aku menggeleng pelan. Dasar bocah.

 

Aku mengelus kepalanya. "Masa kamu nggak inget, Michelle? Waktu pertama kali aku datang, kamu bahkan nggak nerima aku. Huft."

 

"Lo jangan becanda terus deh, Azmal! Gue serius!" ia mengeluh, menatapku tak rela.

 

Aku menyentuh bahunya, menatapnya dalam.

 

"Utututu... Yahh, aku juga udah mulai terbiasa sama kamu, Michelle. Kamu udah kayak adik aku sendiri. Yang paling ribet, cerewet, tapi... juga paling nggak mau kehilangan."

 

Ia menatapku, kesal sekaligus sedih. Dahi mengernyit, tapi matanya tak bisa berbohong.

 

"Kamu nggak boleh ninggalin aku gitu aja."

 

Aku terdiam sejenak. Lalu duduk di sebelahnya.

 

Michelle duduk di kasur, memeluk lututnya.

 

"Aku tahu kamu harus pergi… Tapi…"

 

"Apa?" tanyaku, pelan.

 

"...Kamu nggak bilang 'selamat tinggal'."

 

Aku mengelus rambutnya. "Kalau aku bilang 'selamat tinggal', itu artinya aku ninggalin semuanya. Tapi kalau aku bilang 'sampai nanti'... itu berarti aku masih di sini, Chel. Di hati kamu."

 

Michelle mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mencoba tersenyum. "Janji?"

 

Aku mengangguk. "Janji."

 

Melihat reaksinya, aku tersenyum lembut. "Nanti, kalau Michelle bosen di desa ini, datang aja ke sekolah. Kita bisa ngerjain tugas bareng, mau?"

 

Ia tersenyum tipis. "Kamu nggak akan lupa sama Michelle, kan?"

 

"Aku nggak bakal lupa sama kamu, Michelle. Aku janji."

 

Malam itu jadi salah satu malam terindah dalam hidupku. Kami mengobrol dan tertawa sampai Michelle tertidur. Aku menyelimutinya dan kembali ke kamarku.

 

Kutatap sekeliling. Banyak barang penuh kenangan.

 

Pancing dari Pak Herman—awal mula aku belajar mengendalikan air. Foto di depan toko bu Hajah—di mana aku dan Michelle membantu membangun. Sabit—pertama kalinya aku belajar beternak. Dan banyak lagi.

 

Semua harus aku tinggalkan...

 

Kenangan ini tak akan kulupakan. Karena dengan kenangan ini lah aku bisa menjadi diriku sekarang.

 

Namun ketika aku merasa bahagia, kesedihan menerjang seperti badai. Aku teringat Azna. Dia yang paling menginginkan semua ini. Dia yang mengorbankan dirinya demi aku... yang bahkan tak pantas mendapatkannya.

 

Tuk tuk tuk.

 

Suara ketukan memecah lamunanku. Dari jendela kecil.

 

Seekor merpati bertengger. Di kakinya tergenggam sepucuk surat, di paruhnya, sebuah gelang hitam-putih.

 

Kubuka suratnya dan mengenakan gelang itu.

 

Seketika, hologram muncul dari gelang. Menampilkan Pak Deta, si tua bangka.

 

"Ini saatnya."

...

Bersambung.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Dunia Veyastra

- Copyright © Galeri Karya - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -

cowok siang cowok malam
cewek siang cewek malam