Popular Post

Popular Posts

Kamis, 10 Juli 2025

 

 

Aku nggak bisa tidur nyenyak semalam. Mungkin karena otakku masih muter-muter nyari jawaban kenapa seorang cowok biasa-biasa aja bisa menolak aku seolah aku nggak lebih menarik dari brosur pulsa murah di depan minimarket.

 

Atau mungkin... karena mimpi aneh tadi malam.

 

Aku dikejar-kejar Azmal sambil dia bawa sajadah dan air zamzam. Di akhir mimpi, dia nyuruh aku pake mukena dan ngajarin shalat dhuha sambil marahin aku karena lipstick-ku terlalu tebal. Jijik. Tapi lucu. Dan... nyebelin. Kenapa mimpi soal dia justru bikin aku senyum-senyum pas bangun?

 

Tapi ini bukan suka. Nggak mungkin. Aku cuma... penasaran. Ya, penasaran. Aku anak mafia. Terlatih. Tangguh. Punya standar tinggi. Masak iya jatuh ke cowok religius dingin yang ngomongnya kayak ceramah Jumat? Mustahil.

 

Aku berdiri di depan cermin. Piyama pendek yang aku kenakan—crop top abu lembut dan celana pendek satin—memang nyaman untuk tidur, tapi sekarang malah bikin aku merenung. Pakaian ini jelas menonjolkan perutku yang rata, hasil latihan rutin dan diet disiplin. Paha mulus dan pinggang rampingku terlihat jelas, dan rambutku yang sedikit kusut jatuh di pundak seperti iklan shampoo.

 

Aku menyipitkan mata, menatap refleksiku dengan ekspresi nyinyir.

 

"Oke. Serius. Aku cantik, kuat, seksi, cerdas, deadly, dan literally—hot even in sleepwear. Tapi Azmal?"

 

Aku mencibir. "Dia bahkan nggak noleh. Bahkan pas aku nyenggol dia kemarin, dia lebih milih ngindar daripada liat betapa sempurnanya pipiku ini."

 

Aku mendekat ke cermin, membenahi rambut sebentar lalu memutar badan, memandangi siluet tubuhku dari samping.

 

"Dada? Check. Pinggang? Check. Kaki panjang proporsional? Check. Aura mematikan? Double check."

 

Aku mendesah panjang. "Apa dia... kebal? Atau jangan-jangan... terlalu suci sampai nggak bisa bedain mana makhluk surgawi dan manusia biasa?"

 

Aku mengusap wajah. "Oke, Evna. Fokus. Ini bukan karena kamu suka. Kamu cuma... penasaran. Iya. Penasaran kenapa cowok seaneh itu bisa bikin kamu begini."

 

Pagi ini, aku tetap tampil kece seperti biasa. Tapi kali ini versi "casual wanita aktif dan tangguh". Celana training Adidas, hoodie crop-top pastel yang kebesaran dikit biar kelihatan effortless, dan sneakers putih yang baru aku bersihin tadi malam. Rambut diikat messy bun, dan alis tetap on point. Kelihatannya aku mau jogging, padahal niatku cuma satu: ikut kegiatan kampus karena dia ikut juga.

 

Kegiatan sosial kampus. Bersih-bersih lingkungan fakultas. Aku bahkan lupa siapa yang ngajak, tapi begitu Imel nyebut nama Azmal bakal jadi panitia... aku langsung daftar.

 

"Gue kayak baru lihat hantu waktu lo bilang mau ikut kegiatan bersihin kampus," kata Imel sambil nyengir, "Biasanya lo bersihin masalah, bukan lantai."

 

Aku nyengir juga. "Gue mau tobat."

 

"Tobatnya kok pas Azmal jadi panitia ya?"

 

Aku pura-pura nggak denger. Yang penting aku berdiri di lapangan kampus sekarang, bareng anak-anak panitia lain yang kelihatan semangat kayak mau masuk TV. Aku? Aku cuma mau berdiri cukup dekat biar bisa ngeliat Azmal.

 

Dan akhirnya dia muncul. Jaket hitam polos lagi, celana hitam, sepatu kets lusuh, dan wajah datar abis. Dia bawa alat pel dan ngatur pembagian tugas.

 

"Buat cewek-cewek, bisa bantu bersihin tangga gedung selatan."

 

Langsung angkat tangan. "Aku ikut bagian itu!" suaraku semangat banget sampe semua orang noleh.

 

Azmal cuma ngangguk. Tapi Imel langsung nyikut aku. "Lo ngapain sih semangat amat?"

 

Aku bisik, "Dia yang mimpin bagian itu."

 

Dira ngedumel. "Lo kayak mata-mata yang nyamar jadi relawan."

 

Sasha senyum simpul. "Gue heran lo nggak pake dress waktu kerja bakti begini."

 

Aku cuek. Yang penting aku dapet spot deket dia.

 

Kami mulai bersih-bersih. Aku megang sapu, Azmal ada di ujung tangga, ngepel bagian atas. Suasana kampus adem, tapi detak jantungku nggak.

 

Aku maju pelan. "Mas Azmal."

 

Dia noleh sebentar. "Ya?"

 

"Kalau bersihin tangga itu sunahnya dari atas atau bawah dulu ya?"

 

Dia berhenti sebentar, lalu jawab, "Dari niat dulu."

 

KZL.

 

Aku senyum manis. "Tapi aku bingung... yang kotor itu tangganya atau hatiku tiap liat Mas Azmal dari belakang?"

 

Dia diem. Mungkin mikir. Atau mungkin nahan muntah.

 

Akhirnya dia jawab datar. "Kalau godaanmu semanis ucapanmu, bisa-bisa setan pensiun dini."

 

ASTAGA.

 

Sumpah, cowok ini jawabannya kayak kutipan ceramah subuh tapi nusuk. Tapi kenapa... aku malah geli sendiri.

 

Tapi ini bukan suka. Bukan!

 

Beberapa meter dari kami, ada dua orang mahasiswa yang ikut kegiatan ini juga. Cowok berjaket bomber dengan tangan diselipkan ke kantong dan cewek berkacamata yang bawa buku catatan. Mereka ngeliat ke arahku. Fokus banget.

 

Mereka bukan mahasiswa biasa.

 

Mereka anak buah Ayah.

 

"Target makin dekat dengan objek," bisik si cowok.

 

"Kita catat dulu. Belum waktunya lapor," jawab si cewek tenang.

 

Cowok itu, Ray dan cewek di sampingnya adalah Ruka, mereka anak didik Ayah yang paling loyal. Mereka juga bawahanku dan kami sering menjalani misi bersama. Walau begitu hubungan kami bertiga kayak temen seangkatan. Karena aku gak terlalu suka formal kecuali ketika aku sedang berbicara serius.

 

Kegiatan selesai menjelang siang. Panitia lain duduk-duduk istirahat, aku masih sok sibuk bersihin gagang sapu. Azmal duduk di bawah pohon, buka botol minumnya.

 

Aku jalan ke arah dia, duduk di bangku semen dekatnya.

 

"Haus ya?"

 

Dia noleh sebentar. "Lumayan."

 

Aku keluarkan botol kecil dari tasku. "Aku bawa infused water. Lemon mint. Mau?"

 

Dia tatap botol itu. "Pasti udah dibacain mantra ya?"

 

Aku ngakak. "Gila, Mas. Aku bukan dukun."

 

Dia senyum. Sedikit. Tapi cukup untuk bikin aku diem lima detik karena jantungku nyaris kebol.

 

"Evna!" teriak Imel. "Lo beneran duduk di samping dia? Nggak takut kesetrum hidayah?"

 

"Doain aja gue kesetrum, biar bisa insyaf sekalian," jawabku nyengir.

 

*

 

Kami mulai beres-beres aula fakultas, kali ini lebih santai. Ada yang bersih-bersih, ada yang nyapu, ada yang ngelap jendela. Aku ikutan bersihin meja-meja bareng Imel dan Sasha, tapi mataku tetap sesekali melirik ke arah cowok berjaket hitam yang tengah memindahkan tumpukan kursi sendirian.

 

"Lo bantuin dia, gih," kata Imel sambil nyengir. "Biar lebih dekat."

 

"Ah, malu," jawabku sok jaim.

 

Tapi pada akhirnya... aku nyamperin juga.

 

"Mas Azmal," sapaku. Dia noleh sebentar. "Meja yang itu mau dibawa ke mana?"

 

"Disusun di sisi kiri aula. Yang kanan buat jalur evakuasi," jawabnya datar.

 

Aku ikut mengangkat meja. Berat juga. Tapi demi deket-deket dia, tak apa. Di tengah jalan, aku sok nyenggol bahunya sedikit.

 

"Ups. Maaf."

 

Dia hanya melirik sebentar. "Gak apa."

 

Kami naruh meja bersama, dan saat itu, aku baru sadar... ini pertama kalinya kami kerja bareng cukup lama tanpa orang lain.

 

"Kamu sering ikut kegiatan kayak gini?" tanyaku.

 

"Kalau nggak tabrakan sama jadwal, iya," katanya tanpa menoleh.

 

"Kenapa sih kamu suka diem-diem gitu? Cowok pendiam tuh... biasanya nyimpen rahasia gede."

 

"Semua orang nyimpen rahasia. Termasuk kamu, kan?"

 

Deg. Dadaku sedikit nyesek. Tapi aku tertawa untuk menutupinya. "Aku? Aku cuma nyimpen lip balm di saku hoodie. Paling bahaya juga kalau ketemu mantan."

 

Dia tidak menjawab. Tapi saat aku menoleh, aku menangkap setitik senyum kecil yang muncul lalu hilang. Sekilas. Tapi cukup untuk bikin pipiku memanas.

 

Dan akhirnya... kegiatan pun selesai. Kami semua keluar aula dan jalan ke arah gerbang kampus. Aku masih bareng Imel, Dira, dan Sasha. Tapi langkahku pelan, karena ingin lihat apakah Azmal juga ikut bareng keluar.

 

"Fix, lo naksir berat sama ustadz ganteng itu," kata Dira.

 

"Nggak berat. Beratnya tuh kalo diajak ke pengajian terus disuruh ta’aruf," balasku.

 

"Lo tuh naksir," goda Imel.

 

Aku mendesah. "Nggak. Gue cuma penasaran. Nggak mungkin juga gue suka sama cowok kayak dia."

 

Tapi kalimat itu... terasa hambar. Nggak sekuat biasanya. Aku gak tahu apa yang aku rasain, tapi aku yakin. Bila rasa penasaran ini udah ilang, maka Azmal tak berharga lagi di mataku.

 

Sambil jalan, kami bertemu seorang cowok berambut ikal agak panjang, berkacamata, dan pakai hoodie warna biru laut. Dia membawa kotak donasi dan senyum lebar yang nggak pernah mati.

 

"Evna, ya?" tanyanya sok kenal, nadanya genit nggak jelas.

 

Aku sempat kaget. "Iya, kamu siapa?"

 

"Faza. Temennya Azmal. Bisa dibilang... satu-satunya yang tahan sama dinginnya dia. Dan satu-satunya yang masih hidup habis ngajak dia nongkrong tiap hari."

 

Aku angkat alis. "Temen? Serius?"

 

"Serius banget. Kita temenan sejak awal semester. Gue yang paling sering ditolak ngajak dia ngopi. Dan gue bangga." Dia pasang pose bangga kayak abis menang lomba joget TikTok.

 

Aku nyengir. "Pasti kamu juga penasaran kenapa dia kayak gitu, kan?"

 

"Awalnya iya. Tapi ternyata... dia tuh orang paling tulus yang pernah gue kenal. Nggak banyak omong, tapi sekali nolong orang... total. Lo tahu nggak dia pernah bantuin OB kampus yang anaknya sakit buat dapetin bantuan biaya? Padahal nggak ada yang nyuruh. Dia diem-diem ngurusin semuanya kayak pahlawan bertudung sajadah."

 

Aku terdiam sebentar, lalu cepat-cepat nyamarin ekspresiku. "Ya udah. Biasa aja sih. Gue juga bisa bantuin orang kalau mau."

 

Faza melirikku licik. "Lo nanya-nanya gini... jangan-jangan... lo suka ya sama Azmal?"

 

Aku langsung mendekat dengan senyum lebar. "Lo suka napas?"

 

"Ya... suka dong."

 

"Lo suka hidup?"

 

"Banget."

 

Aku makin mendekat, mata menyipit. "Lo pengen dua-duanya bertahan sampai minggu depan?"

 

Faza langsung mundur panik sambil ketawa. "Woi woi woi! Santai, Nona Evna! Amann! Nggak nanya lagi!"

 

Imel dan Dira langsung ngakak. Sasha menutup mulut sambil tertawa.

 

"Waduh, Faza kena semprot princess mafia!" seru Imel.

 

"Cepet, cari tempat berlindung!" tambah Dira.

 

Dengan panik Faza ngumpet di belakang Amel, cewek panitia dari fakultas sebelah. "Amel lindungi aku! Ini cewek serem bener!"

 

Amel yang lagi minum langsung minggir sambil nyengir, "Jangan bawa-bawa gue, bang. Gue juga takut."

 

Aku mendecak dan menyilangkan tangan. "Gue cuma tanya-tanya biasa. Lagian cowok kayak Azmal mah... bukan tipe gue."

 

Kalimat itu keluar pelan... tapi suaraku mulai goyah. Dan entah kenapa, saat aku melirik ke arah tempat Azmal duduk, dia nggak lagi di sana.

 

Tapi perasaan itu... belum pergi.

 

Tiba-tiba, sebuah van hitam berhenti dengan sangat mulus di tepi jalan. Jendelanya gelap.

 

Aku langsung berhenti. Yang lain juga.

 

Jendela depan turun pelan. Wajah sopirnya nggak kelihatan jelas, hanya suara pelan tapi tegas, "Nona. Kami jemput sesuai jadwal."

 

Semua temanku langsung melongo. Mereka tau... ini bukan Grab. Ini bukan travel. Ini... kendaraan mafia.

 

Aku hanya mendesah. "Sampai besok, girls. Kalau gue nggak dibunuh karena kebanyakan senyum ke cowok alim."

 

Mereka ketawa hambar. Mereka takut.

Aku masuk ke van. Begitu pintu tertutup, dunia berubah.

 

Interior mobil gelap, mewah, sunyi. Aroma kulit sintetis mahal dan parfum pria mahal. Di belakang supir, duduk pria berbadan besar memakai jas hitam.

 

Dia tak bicara soal Azmal. Tidak menyinggung soal laporan. Hanya diam.

 

Van meluncur pelan, membawa aku kembali ke dunia asliku. Dunia mafia. Dunia yang... terasa makin asing.

 

Dan di luar sana, di koridor kampus yang penuh debu dan tawa ringan, ada seorang cowok dingin, dengan tatapan lurus dan hati yang entah kenapa... mulai membuat duniaku bergetar.

 

Tapi ini bukan cinta.

Kan?

.

.

*

Bersambung.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Dunia Veyastra

- Copyright © Galeri Karya - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -

cowok siang cowok malam
cewek siang cewek malam