Pada dasarnya semua orang suka menjadi pusat perhatian. Tapi, yaa.. tak semua orang bisa memegangnya seperti aku. Setiap langkahku di koridor kampus seperti parade kemenangan, sampai hampir semua mata itu tertuju padaku. Dan tentunya.. ada pula pandangan iri untuk hal itu.
Haha, aku tak peduli.
Hari ini aku mengenakan blouse V-neck warna krem yang pas di badan, menonjolkan lekuk tubuhku tanpa perlu usaha. Bagian bawahnya kuselipkan rapi ke dalam celana jeans high-waist berpotongan slim—simple, tapi tahu caranya mencuri perhatian. Tumitku tak setinggi biasanya, tapi tetap memadai untuk menambah lenggak-lenggok anggun saat berjalan, dan cukup membuat siapapun yang menoleh menahan napas.
Rambutku diblow jatuh bebas melewati bahu, dengan poni miring yang sedikit menutupi alis—gaya khasku yang sudah kutemukan sejak lama dan selalu berhasil. Makeup-ku tetap natural, tapi bukan natural biasa—lip-tint nude, highlighter samar, dan eyeliner tajam yang memberi kesan: aku tak datang untuk main-main. Tas kecil menggantung santai di lenganku, seolah jadi penanda bahwa segalanya dalam kendaliku.
Aku tersenyum tipis, melirik, lalu mengedip. Kombinasi maut. Dan seperti biasa, para pemujaku hanya bisa terdiam, dengan mata berbinar-binar seperti binatang yang baru jatuh cinta.
Mereka menyapaku seperti menyapa seorang pejabat, atau lebih tepatnya.. seperti menyapa bahaya yang dibungkus Chanel No.5. Dua mahasiswi di sisi lorong berbisik, cukup pelan tapi tetap dapat terdengar oleh telingaku.
"Gila ya, liat deh. pinggangnya. Itu pasti celana custom."
"Iya, dan cara jalannya tuh.. kayak model profesional. Tapi serem, sumpah."
Di sisi lain, seorang cowok nekat melangkah cepat mendekatiku. Wajahnya sok percaya diri.
"Kak Evna, boleh minta nomor WA-nya nggak? Buat diskusi tugas kemarin, hehe."
Aku meliriknya datar, dan menjawabnya dengan singkat. "Kita bahkan nggak sekelas."
Dia gugup seketika, mundur sambil cengengesan. "Iya sih, cuma.. ya kali aja."
Aku hanya mengangkat alis dan lanjut berjalan.
"Evnaaa!" suara Imel melengking dari ujung lorong. "Celana lo hari ini ngalahin catwalk sumpah!"
Aku hanya tersenyum tipis, melempar lambaian seperti Miss Universe yang sedang bosen.
"Bukan catwalk," jawabku santai. "Ini jalan takdir." Timpalku.
Imel dan dua temannya, Dira dan Sasha, cekikikan seperti biasa. Mereka selalu begitu. Entah benar kagum atau cuma pengen dekat supaya nggak kena masalah. Imel, si vokal dan cerewet, selalu jadi yang paling dulu bersuara. Tubuhnya mungil tapi suaranya bisa ngalahin toa masjid. Dira kebalikannya. Dia jutek, dingin, dan suka ngupil intelektualisme. Dia juga paling kritis, tapi selalu ngikut kalau aku bilang 'jalan'. Dan Sasha, si kalem berkacamata, tipe yang diem-diem mengamati tapi hafal semua gerakanku. Dia kayak database hidup.
Mereka bertiga nggak dekat satu sama lain sebelum aku datang. Tapi sejak aku jadi pusat perhatian dan, yaa.. pusat kekuasaan kecil-kecilan di kampus ini, mereka mulai merapat. Bukan karena aku ngajak, tapi karena mereka sadar jika berada di orbitku jauh lebih aman daripada berdiri di luar dan kena hempas. Dan aku pun tahu, mereka bukan teman sejati. Tapi untuk dunia yang aku jalani, loyalitas dibayar dengan manfaat. Bukan perasaan.
Aku tahu apa yang orang-orang pikirkan tentangku. Cantik, cerdas, kaya, sedikit.. berbahaya. Rumor soal aku anak mafia bukan hal baru. Ada yang bilang aku punya simpanan pistol di tas makeup. Yang lain bilang ayahku punya pengawal pribadi yang siap menembak siapa saja yang menyakitiku. Aku tak pernah membenarkan. Tapi juga tak pernah membantah. Biarkan mitos bekerja untukku.
Saat aku masuk ke ruang kuliah, semua mata otomatis menoleh. Beberapa langsung menunduk, sebagian lagi senyum basa-basi. Aku mengambil posisi biasa, bangku tengah sebelah jendela. Cahaya matahari jatuh pas di pipiku.
Perfect.
Aku kuliah di Universitas Ganggasari. Universitas elit yang hanya menerima mahasiswa yang penuh talenta dan keunikan. Aku tentu termasuk dalam kategori itu, namun aku masuk ke sini bukan karena alasan itu. Aku masuk ke sini karena kampus ini termasuk wilayah kekuasaan ayahku, ketua dari geng mafia Shadow Vow.
Dosen masuk, membuka slide PowerPoint dengan suara monoton. Aku membuka ponsel, scroll Instagram. Pesan dari Damar belum kubalas. Cowok terakhir yang mencoba mendekatiku minggu lalu. Gaya CEO wannabe, tapi lari terbirit waktu tahu latar belakangku. Lemah.
"Bu, boleh lanjut slide-nya?"
Suara itu cukup pelan, tapi tajam. Sontak kelas menjadi hening. Semua kepala menoleh ke arah suara.
Dan tentunya, aku ikut menoleh.
Di sudut belakang, duduk seorang cowok. Jaket hitam polos, rambut acak, buku tebal penuh coretan di meja. Ia menatap layar, bukan ke dosen. Apalagi ke arahku.
"Siapa tuh?" bisikku ke Imel.
"Azmal. Mahasiswa kupu-kupu. Shalat–kuliah–pulang. Jarang ngomong. Gak bisa digoda. Udah banyak yang nyoba."
Aku menyipit. Wajahnya biasa aja. Tapi sorot matanya tajam. Seperti.. nggak peduli sama dunia. Termasuk aku. Angkatanku sudah menempuh semester dua, tapi aku belum tahu akan kehadiran cowo seperti dia di kelasku. Harusnya aku tahu semua cowo, karena mereka pasti setor muka untuk menggotaku.
Tunggu.Ini berarti, dia.. gak tertarik sama aku?
Aku bersandar di kursi. Mendadak kehilangan selera buka Instagram. Cowok itu.. menarik. Bukan karena keren. Tapi karena aneh. Aku selalu menang. Selalu mengendalikan.
Tapi dia? Dia bahkan gak sadar aku ada. Padahal kuliah udah semester dua sekarang.
Aku tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Tapi senyum seorang penari pedang yang baru saja melihat lawan setara.
Menarik.
Sangat menarik.
Dalam hidupku, semua lelaki gampang ditundukkan.
Kecuali dia.
Dan aku...
...paling benci kekalahan.
Kelas selesai. Suara kursi diseret, pintu dibuka, dan mahasiswa berhamburan keluar seperti balapan. Aku masih duduk, mengamati sosok di pojok kelas yang bangkit pelan, memungut tasnya, lalu berjalan keluar.
Azmal.
Aku berdiri, pura-pura merapikan tas, lalu mengikuti langkahnya dari jarak yang cukup untuk tidak mencurigakan. Tapi Imel melihat gelagatku.
"Lo ngikutin dia? Serius, Ev?" bisiknya sambil nyengir nakal.
Aku hanya menaikkan bahu. "Cuma penasaran."
"Berani taruhan? Lo bisa bikin dia ngobrol dalam lima menit."
Aku tertawa kecil. "Gue nggak butuh lima menit."
Kami menyusuri koridor kampus. Azmal berjalan tanpa melihat kiri-kanan, tenang, langkahnya ringan. Sampai akhirnya... dia belok ke arah mushola kecil di belakang fakultas.
Aku memperlambat langkah.
Dari balik kaca jendela mushola, aku melihatnya melepas jaket, menggulung lengan kemeja, dan mengambil air wudhu. Gerakannya yang terlalu rapi.. teliti dan hening, seolah semua suara dunia tidak menyentuhnya.. membuatku tak dapat mengalihkan pandanganku.
Mataku tak berkedip. Dalam diam, aku mulai menganalisis. Bahunya tegap, tapi tidak tegang. Langkahnya terukur, tidak sembarangan. Tangan kirinya sedikit lebih cepat saat membuka pintu, seperti kebiasaan orang yang biasa berjaga. Gerakan kecil, tapi jelas bagi orang yang diajarkan untuk membaca tubuh.
Pelatihan mafia level dasar. Baca orang dari geraknya.
Dan cowok ini... tidak biasa. Dia masuk ke dalam mushola, mengambil sajadah, dan mulai salat dhuha. Tunduk. Tenang. Hening.
Aku terdiam di balik pilar.
Untuk pertama kalinya sejak lama, aku melihat seseorang yang... terasa kuat, tapi damai di saat bersamaan. Dan itu, entah kenapa... membuatku menunduk.
Tapi aku belum selesai. Begitu ia keluar dari mushola, aku menyandarkan punggung ke dinding lalu menunggu detik yang pas.
Langkahnya mendekat, aku pasang senyum termanisku. Senyum yang biasa kupakai untuk menjebak lawan bicara dalam negosiasi berbahaya.
"Masya Allah... sholeh banget, Mas. Boleh ngajarin aku sholat dhuha juga? Tapi... aku butuh bimbingan yang sabar dan lembut." Kalimat itu keluar sempurna. Nada suara, tatapan, semua dirancang. Tapi dia hanya melirik sekilas.
"Maaf," katanya pendek, lalu berjalan pergi begitu saja.
Aku berdiri terpaku. Itu... penolakan yang bersih, cepat, dan tanpa cela.
Sakit? Tidak. Menyentak? Iya.
Tiba-tiba terdengar cekikikan di belakangku.
"GAGAL!" seru Imel, Dira, dan Sasha bersamaan.
"Gila, Evna ditolak! Dunia bakal kiamat," ujar Dira sambil tertawa ngakak.
Sasha menambahkan, "Udah ganteng, sholeh, cuek. Fix, tipe langka."
"Seru nih kalau kita godain dia!" ajak Imel, memegang pundak Sasha dan Dira.
Aku memelototi mereka. "Dilarang. Siapa pun dari kalian yang coba godain dia... aku patahin heels kalian."
"Cieee, cemburu," kata Imel, menjulurkan lidah.
"Kiw, kiw."
Aku hanya mendesah dan melipat tangan.
*
Aku bersembunyi di balik pilar kampus, memperhatikan dari kejauhan. Azmal baru saja selesai melipat sajadahnya, duduk bersandar santai di bawah pohon besar. Cahaya matahari memantul dari keringat di pelipisnya—kilau yang... kenapa bisa sekeren itu sih?!
Oke, Evna Azzalea. Ini saatnya.
Aku melangkah ringan, membiarkan suara hak sepatu menggema anggun. Rambut sengaja kubiarkan tergerai satu sisi. Ini tekniknya Sasha—dijamin bikin cowok mana pun kelepek-kelepek.
“Mas Azmal,” sapaku dengan nada semanis sirup kental. “Rajin amat ibadahnya, Mas.”
Azmal hanya melirik singkat. “Alhamdulillah.”
Oke. Bukan reaksi yang kuharapkan, tapi santuy.
Aku mendekat lagi, sedikit menunduk agar wajah kami sejajar. “Eh, Mas. Mau gak nemenin aku jalan-jalan habis ini? Katanya, habis Dhuha doanya lebih mustajab.” Kujentikkan jari, “Siapa tau aku bisa jadi doa yang terkabul buat Mas.”
Azmal terdiam. Aku bisa lihat matanya menatapku... atau lebih tepatnya, menembusku, seperti aku cuman tembok di depannya.
“Kalau mau jalan-jalan, jangan lupa izin sama Ayah kamu dulu,” katanya santai, sambil berdiri dan menepuk-nepuk celananya dari debu.
WHAT?
Aku melongo.
Dia... dia menolak? Bahkan dia gak tertarik nembak balik godaanku? Aku, Evna Azzalea? Yang bikin cowok-cowok fakultas hukum sampai jatuh bangku waktu aku senyum?
“Eh, Mas... Mas, kok gitu sih? Nggak tertarik gitu sama aku?” Aku sengaja pasang wajah memelas, meletakkan tangan di dada seperti di drama Korea.
Azmal menoleh sambil nyengir tipis, “Tertarik sih... buat ngajarin kamu baca Al-Mulk biar nggak gabut habis isya.”
BAM.
Sumpah, rasanya kayak ketampar pake mushaf ukuran A3.
Aku ingin marah, ingin sewot, tapi bibirku malah menarik senyum sialan. Dia ini serius atau ngetroll sih? Kenapa malah aku yang ngejar, dia yang santai kayak gini?
“Baiklah, Mas. Aku terima tantangan itu,” jawabku, mencoba menyelamatkan harga diriku yang sudah menguap. “Nanti aku bawa Al-Qur'an khusus edisi pink.”
Azmal hanya melambaikan tangan santai, berjalan menjauh.
Tinggal aku yang berdiri di sana, merasa... tertipu.
*
Jam berikutnya, suasana kelas lagi agak rame karena panitia acara kemarin lagi ngebahas alat-alat yang belum balik. Aku duduk, masih berharap ada momen Azmal tiba-tiba nyariin aku, kayak di FTV-FTV itu.
Dan… dia jalan ke arahku lagi.
Oke. Ini pasti—Pasti—Mas Azmal nyariin aku. Mungkin dia akhirnya sadar aku ini satu-satunya orang yang ngerti dia.
“Evna,” panggilnya.
Tuh kan! Aku udah bilang, dia pasti luluh!
“Iya, Mas?” Senyumku auto full power 100 watt.
“Kursi di deretan kamu ada yang kosong gak? Soalnya panitia ngadu masih kurang dua kursi buat di aula.”
Aku: .....
“Ah, eh, kursi? O-oh, iya iya. Nih, Mas.” Aku geser kursi di sampingku, walau rasanya aku mau lempar kursi itu ke hatiku sendiri.
“Thanks.” Azmal angkat kursi itu santai, lalu jalan pergi seolah nggak ada hati yang baru saja remuk di situ.
Dari belakang, Dira dan Imel nahan ketawa setengah mati. Sasha bahkan udah nggak sopan ketawa sambil mukul-mukul meja.
“Astaga Ev, kamu kegeeran parah sih!” Dira meledek.
“Duh, kasian banget. Udah disamperin, eh... nyari kursi toh…” Sasha makin ngolok.
Aku bisa merasakan wajahku memanas, campuran antara malu, kesel, dan… kagum karena Mas Azmal berhasil bikin aku kalah lagi. Senjata makan tuan part 2.
“Biarin. Toh dia tetap nyebut namaku,” sahutku ngotot, walau jelas-jelas tadi aku di-skip.
Sasha dan Dira makin ngakak, sedangkan aku cuma bisa menahan gengsi sambil menghibur diri.
Azmal, kamu tuh kenapa sih? Sadar gak sih kalau aku ini calon istrimu?
Aku nggak ngerti. Sumpah.
Kenapa setiap kali aku coba ngedeketin Mas Azmal, semesta selalu punya cara yang lebih absurd buat nge-prank aku?
Kayak waktu aku sengaja nyelipin cokelat di laci mejanya. Rapi. Ada note gemes, “Buat Mas Azmal yang suka senyum diem-diem.”
Eh, pas dia buka… kecoa masuk duluan.
Seketika kelas heboh, aku diem-diem mundur ke pojokan, ngubur diri dalam keheningan. Yang keinget malah kecoa, bukan cokelat.
Belum lagi waktu aku 'kebetulan' bawa payung dua di hari hujan. Udah nunggu di pintu kampus, gaya ala-ala drama Jepang, “Mas, mau nebeng?”
Dia malah lewat jalur belakang, nyempil sambil narik jas almamaternya ke kepala. Fix, hati aku basah kuyup lebih dari hujan waktu itu.
Pernah juga, aku coba pura-pura baca buku di perpustakaan, posisi strategis banget di jalur pulang Azmal. Rencana: pas dia lewat, aku jatuhin pulpen.
Ekspektasi: dia nolongin, terus senyum.
Realita: yang nolongin petugas perpus.
Dan sialnya, petugas itu yang kesemsem dan kegeeran!
BUKAN ELU TARGET GUA!
Dan puncaknya… puncak dari segala kegagalan adalah... waktu aku ngumpet di balik pintu ruang musik, ngarep Azmal lewat biar bisa ngajak latihan bareng.
Tapi yang keluar malah Nayaka sama Dira yang lagi bawa speaker gede. Aku, yang nyender manja di pintu, sukses mental kegencet sama speaker.
Bahkan waktu aku nekat banget ngasih air minum langsung ke dia pas dia abis shalat dhuha—dengan senyum 99% maut—dia malah bilang:
“Maaf, saya lagi puasa sunnah.”
BAH. APA ITU KESALEHAN YANG MENGHANCURKAN ROMANTISME?
Kadang aku mikir, ini tuh takdir yang iseng, atau Mas Azmal emang… too halal to handle?
Tapi ya gimana…
Setiap dia senyum tipis, walau bukan buat aku, rasanya kayak:
“Udah Evna, lanjut deh perjuanganmu. Meski lo jatoh terus.”
Padahal kenyataannya, aku jatuhnya lebih sering ke lantai ketimbang ke hatinya.
.
.
Bersambung.
