Pagi itu, aku disuguhi oleh langit dan cuaca yang cukup mendung. Persis seperti isi kepalaku, saat berdiri di depan gerbang megah SMA Bintang Harapan. Sekolah swasta elite yang menurut rumornya.. ini adalah tempat anak sultan belajar sebelum lanjut ke luar negeri. Pilar-pilar tinggi yang menjulang, dengan taman luas yang lebih rapi dari rumah sakit, dan air mancur di tengah lapangan ini membuat aku merasa.. salah tempat.
Aku menarik napas panjang.
"Nggak mau drama, nggak mau dekat cewek. Fokus belajar, cari beasiswa PTN, dan jaga pandangan."
Itu niatku. Harusnya kuat. Harusnya lurus. Harusnya bisa.
Namaku Azmal, lengkapnya Azmal Fadhil Rahman. Murid pindahan kelas XI, sebelumnya sekolah di MTsN kecil pinggir kota yang sederhana banget. Bisa dibilang lulusan pesantren juga, karena MTs tempatku dulu lebih banyak hafalan dan pelajaran agama ketimbang kegiatan OSIS. Hidupku tenang, lurus, dan jauh dari keramaian.
Tapi semua berubah ketika keluargaku makin terjepit masalah ekonomi. Bapak kerja di bengkel semakin tak menentu, Ibu sering sakit, dan tabungan keluarga semakin menipis.
Aku harus cari jalan lain.
SMA negeri di kota penuh, dan pilihan lain cuma ini.. program beasiswa unggulan dari sekolah elite yang katanya butuh siswa pintar dari sekolah biasa buat pencitraan mereka.
Beasiswanya bukan cuma nutup biaya. Kalau aku bantu-bantu program sekolah, jaga lab, jadi asisten guru, atau ikut lomba, aku bisa dapet uang tambahan yang bisa perlahan membantu keluarga. Itu yang bikin aku nekat pindah.
Kupandangi koper kecilku yang isinya nggak banyak. Beberapa buku, baju, dan selembar surat dari kepala MTs lama yang bilang aku siswa berprestasi tapi.. suka ngelantur kalau ngomong.
Huh. Salah satu alasannya juga, kenapa aku bisa masuk sini.
Langkah kakiku terasa berat waktu mulai masuk ke halaman sekolah. Baru beberapa detik, aku langsung disambut pemandangan yang bikin lutut lemas. Cowok-cowok rambutnya pirang, biru, bahkan ada yang pink pastel. Cewek-cewek jalan bareng sambil siaran langsung di akun sosial media mereka untuk para followers-nya, dan beberapa guru jalan sambil main iPad.
"Itu yang beasiswa, ya?"
"Katanya dari kampung, ya? Lucu juga, kayak NPC."
NPC? Hah, ini sekolah atau game online?
Aku mengabaikan semua lirikan itu dan berjalan menuju ruang guru. Guru piket menyuruhku langsung ke ruang kepala sekolah, katanya Pak Dirga pengen menyambutku langsung. Dibilang kepala sekolah baru dan tegas. Tapi tetap saja.. kepala sekolah.
Ruangannya di lantai dua. Aku naik dengan hati-hati, nahan napas, dan mengetuk pintu perlahan.
"Masuk," jawab suara berat dari dalam.
Saat aku buka pintu, aku sedikit kaget.
Laki-laki berusia sekitar empat puluhan duduk tegap di balik meja besar. Rambutnya pendek, berkacamata, dan mengenakan batik modern. Di balik kesan kalem, ada sesuatu dari sorot matanya yang.. tajam. Tegas tapi tidak menyeramkan.
"Kamu Azmal?"
"Iya, Pak. Saya.. Azmal Fadhil."
"Silakan duduk."
Kami bicara sebentar. Tentang keluarga, alasan pindah, dan targetku di sekolah ini.
"Saya cuma pengen fokus belajar, Pak. Biar bisa kuliah dan.. meringankan beban orang tua."
Pak Dirga mengangguk pelan. "Saya hormati niatmu. Tapi sekolah ini.. bukan tempat biasa. Kamu akan melihat banyak hal yang mungkin menggoda untuk menyimpang. Jangan biarkan dirimu hanyut."
"Insya Allah, Pak. Saya bakal jaga diri."
Pak Dirga tersenyum kecil. "Bagus. Ruang kelasmu XI IPA 3. Semoga kamu bisa beradaptasi."
Aku mengangguk dan pamit. Perasaanku sedikit lebih tenang.
Di lorong, aku berpapasan dengan seorang cowok berkacamata bulat, rambut acak-acakan, bawa map, dan celana nggak dimasukin seragam.
"Lu yang baru, ya? Gue Reza. Ntar kita sekelas."
Aku mengangguk. "Azmal. Salam kenal."
"Santai aja. Di sini pada absurd, tapi lu bakal betah. Selama lu nggak.. bikin masalah."
Aku senyum kaku. "Insya Allah nggak, bro."
Kami mulai berjalan ke kelas. Dalam perjalanan, Reza mulai menjelaskan hal-hal aneh yang harus aku tahu. Soal jam pelajaran yang kadang suka diubah mendadak, guru-guru yang eksentrik, dan ekskul yang jumlahnya bisa bikin pusing.
"Dan yang paling penting.. kalau lu pengen dapet duit tambahan, lu harus jago nyari celah. Bantu guru, ikut program volunteer, ikut lomba, atau bantu panitia acara. Kadang malah bisa dapet tip dari guru kalau bantuin nyusun materi atau ngawasin try out."
Aku manggut-manggut serius. "Terus.. gimana caranya biar dapet jatahan gitu?"
Reza mau buka mulut, tapi bel istirahat keburu bunyi keras. Dia cengar-cengir.
"Nanti gue jelasin di kantin. Sekalian kenalin sama orang-orang penting di sekolah ini. Tapi janji ya, jangan nyusahin gue hari pertama."
Aku ketawa kecil. "Janji."
Di dalam kelas XI IPA 3, ruangannya kayak ruang meeting hotel. Meja besar, kursi empuk, dan papan tulis interaktif. Aku duduk di pojok belakang. Beberapa cewek masuk dan langsung saling bisik-bisik sambil lirik ke arahku.
Salah satunya berambut pendek, headphone menggantung di leher, pakai jaket tipis, dan ekspresi sinis. Dia duduk dua meja dariku.
"Gamer," bisik Reza pelan. "Nama dia Icha. Tsundere parah. Tapi kalau udah senyum, nyala hatimu."
Aku mencatat dalam hati.
Beberapa menit kemudian, seorang cewek lain masuk. Tinggi, kulit putih, rambut dikuncir dua, bawa kantong cosplay. Bajunya kebesaran dan dia terlihat.. eksentrik.
"Itu Mika. Cosplayer. Sering nyamar jadi waifu-anime. Lucu, tapi nyolot."
Lalu masuk seorang cewek berkerudung dengan wajah adem dan senyum ramah. Tatapannya penuh cahaya.
"Syifa. Ketua Rohis. Bawaannya tenang, tapi kalau udah debat soal fiqih, bisa bikin dosen mual."
Tak lama, pintu kembali terbuka dan seorang siswi dengan perawakan tinggi semampai melangkah masuk. Rambut hitamnya dikuncir satu, dan dia mengenakan seragam yang rapi banget sampai dasinya aja simetris. Wajahnya tegas, seperti orang dewasa, dan langkahnya penuh percaya diri.
"Nah.. itu dia. Ketua OSIS. Namanya Aluna. Anak pemilik yayasan ini. Pinter, galak, tapi adil. Kalau dia ngomong, semua orang diam. Tapi jangan salah, kadang dia bisa ngelucu juga kayak orang gila," bisik Reza cepat.
Aku sempat bertukar pandang sebentar dengan Aluna. Tatapannya dingin.. tapi ada sesuatu di balik sorot matanya. Sesuatu yang bikin bulu kuduk berdiri.
Reza menepuk pundakku. "Udah, yuk ke kantin. Sambil gue ceritain semua celah cari cuan di sekolah ini."
Tapi sebelum kami bisa pergi, guru piket muncul dari lorong depan dan melambaikan map.
"Kamu Azmal, kan? Tolong antarkan ini ke ruang OSIS, ya. Mereka butuh cepat untuk agenda rapat nanti."
Aku menerima map itu dengan patuh. Baru hari pertama, ya udahlah nurut aja. Lagipula ruang OSIS nggak terlalu jauh dari kelas.
"Eh, gue ikut ke OSIS aja deh. Gue juga mau ngembaliin formulir kegiatan," kata Reza, menyusul dari belakang. "Biar gak kesepian, bro."
Kami jalan berdua melewati lorong tengah yang agak sempit karena ada rak buku dan kursi tambahan di sisi dinding. Suasana masih sepi, tapi langkah kami cepat karena pengen buru-buru ke kantin.
Di depan ruang OSIS, aku buka pintu tanpa terlalu lihat ke dalam. Dan..
BRAK!
Map di tanganku terlepas dan menabrak sebuah meja yang ternyata baru dicat. Semua kertas menempel di cat basah dan nempel ke bajuku. Meja itu penuh poster kegiatan OSIS, dan sekarang.. sebagian posternya rusak.
Seorang cewek berdiri dari belakang meja, wajahnya panik. Dia tampak seperti baru saja selesai menata dokumen, dan sekarang semua dokumennya.. berantakan.
"APAAN NIH?!" katanya dengan suara tinggi.
Aku kaget. "M-maaf! Saya nggak lihat mejanya baru dicat.."
"Itu catnya masih basah, lah! Astaga! Ini draft proker OSIS!!"
Reza menahan tawa di belakangku, berusaha pura-pura nggak kenal.
Cewek itu menatap tajam. "Nama kamu siapa?"
"A-Azmal... siswa baru... disuruh nganter map."
Dia menghela napas panjang, lalu melirik ke arah papan pengumuman yang sobek karena terkena lenganku.
"Gawat, ini bakal heboh. Ketua OSIS jatuhin file penting gara-gara siswa baru.."
Beberapa murid lain masuk dan langsung melongo melihat ruangan berantakan.
Seseorang berseru, "Wah, murid pindahan ngamuk di ruang OSIS!"
Yang lain menimpali, "Katanya cowok beasiswa.. kok barbar gitu, sih?!"
Dan aku.. resmi jadi topik panas di hari pertama. Semua pandangan tertuju padaku, termasuk pandangan ketua OSIS Aluna yang kini menatapku seperti aku bawa bom bikin aku ingin lenyap saat itu juga.
Sial.
Niatku cuma satu, fokus belajar. Tapi sekarang, aku harus fokus.. cari cara hidup tanpa reputasi.
Reza menatapku dengan ekspresi antara syok dan kagum.
Lalu dia berseru.. "Bro..baru lima jam di sekolah, lu udah unlock 'Ending Barbar'! Lu speedrun apa plot komedi?!"
*
Bersambung...
